Jenis-jenis Gangguan Jiwa dan Gejalanya

- Editor

Selasa, 12 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ODGJ. (Foto: Istimewa)

Ilustrasi ODGJ. (Foto: Istimewa)

“Beberapa kondisi lain, seperti demensia Alzheimer dan gangguan tidur, juga dikelompokkan sebagai sakit jiwa karena melibatkan gangguan di otak.”

Pelopor. id | Jakarta – Gangguan kesehatan mental, bila dibiarkan tanpa penanganan, maka dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut sakit jiwa. Hal tersebut bisa diderita seseorang antara lain akibat tekanan dan berbagai persoalan hidup yang dialaminya.

“Sakit jiwa adalah gangguan mental yang berdampak pada suasana hati, pola pikir, hingga tingkah laku secara umum. Seseorang disebut menderita sakit jiwa bila gejala dan tanda gangguan jiwa yang dialami membuatnya tertekan dan tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara normal,” cuit dr. Handri Irawan, MMRS melalui akun Twitternya @drhandri dikutip Selasa, (12/07/2022).

Ciri-Ciri Orang yang Mengalami Sakit Jiwa

Orang yang mengalami sakit jiwa, bisa berbeda-beda tergantung dari jenisnya. Namun menurut dr. Handri, pada umumnya, orang yang mengalami gangguan jiwa dapat dikenali dari beberapa gejala, seperti:

1. Mengalami perubahan mood yang sangat drastis, misalnya dari sangat sedih menjadi sangat gembira atau sebaliknya dalam waktu singkat, Memiliki rasa takut yang berlebihan.

2. Menarik diri dari kehidupan sosial, Merasa emosional, amarahnya tidak terkendali, dan suka melakukan kekerasan, dan Mengalami delusi.

3. Terkadang, beberapa gejala tersebut juga disertai oleh gangguan fisik, seperti sakit kepala, nyeri punggung, sakit perut, atau nyeri lain yang tidak diketahui sebabnya.

dr. Handri Irawan, MMRS. (Foto:Pelopor.id/Twitter@drhandri)
dr. Handri Irawan, MMRS. (Foto:Pelopor.id/Twitter@drhandri)

Berbagai Penyebab Sakit Jiwa

Sakit jiwa, sering kali tidak diketahui penyebabnya. Tetapi kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor genetik, faktor lingkungan sekitar, atau perpaduan dari berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

• Perubahan reaksi senyawa kimia alami pada otak yang bernama Perubahan ini bisa berdampak pada mood dan berbagai aspek kesehatan mental
• Riwayat sakit jiwa dalam keluarga. Gen-gen tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sakit jiwa. Kemunculannya dapat dipicu oleh persoalan hidup yang dialami penderita sakit jiwa
• Paparan virus, racun, minuman keras, dan obat-obatan saat berada dalam kandungan juga dapat dihubungkan dengan penyebab sakit jiwa
• Pengalaman traumatis, seperti pernah mengalami pemerkosaan atau menjadi korban bencana alam
• Penggunaan obat-obatan terlarang
• Hidup yang penuh tekanan, seperti kesulitan keuangan, perceraian, kesedihan akibat adanya anggota keluarga yang meninggal
• Penyakit kronis, seperti kanker
• Kerusakan otak, misalnya cedera akibat kecelakaan
• Selalu merasa sendiri
• Pernah mengalami sakit jiwa sebelumnya

Baca Juga :   30 Tahun The Body Shop Indonesia Hadirkan Aksi Kecil untuk Dampak Besar

Jenis-Jenis Sakit Jiwa

Kondisi kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa, ada banyak. Setiap kelompok dapat terbagi lagi menjadi beberapa jenis yang lebih spesifik. Beberapa jenisnya adalah sebagai berikut:

1. Gangguan kecemasan
Seseorang yang mengalami gangguan kecemasan merespons objek atau situasi tertentu dengan perasaan takut dan panik hingga jantungnya berdetak lebih cepat. Kondisi ini, dapat dikatakan sebagai gangguan jika gejala-gejala tersebut tidak dapat mereka kendalikan dan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan kecemasan, juga dapat berupa fobia terhadap situasi tertentu, gangguan kecemasan sosial, atau gangguan panik.

2. Gangguan kepribadian
Mereka yang mengalami gangguan kepribadian umumnya memiliki karakter ekstrem dan kaku yang tidak sesuai dengan kebiasaan bermasyarakat, seperti anti-sosial atau paranoid.

3. Gangguan afektif atau mood
Orang yang mengalami gangguan mood dapat terus-menerus merasa sedih, terlalu gembira selama periode tertentu, atau perasaan sangat senang dan sangat sedih yang berubah dalam waktu singkat dan terjadi secara berulang.

4. Gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan
Orang dengan gangguan ini, tidak dapat menolak dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan diri sendiri atau orang lain. Gangguan jiwa yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
a. Kleptomania atau dorongan untuk mencuri barang-barang kecil
b. Pyromania atau dorongan kuat untuk menyulut api, serta kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

5. Gangguan psikotik
Gangguan ini mengacaukan pikiran dan kesadaran manusia. Gejala paling umum dari kondisi ini ada dua bentuk yakni halusinasi dan delusi. Orang yang mengalami halusinasi merasa dirinya melihat atau mendengar suara yang sebenarnya tidak nyata. Sementara delusi, adalah hal tidak benar yang dipercaya oleh penderitanya sebagai sesuatu yang benar. Misalnya, delusi kejar, yaitu kondisi ketika penderita merasa diikuti seseorang.

6. Gangguan pola makan
Penderitanya mengalami perubahan perilaku, kebiasaan, dan emosi yang berkaitan dengan berat badan dan makanan. Contoh paling umum dari gangguan ini adalah anoreksia nervosa, yang ditandai dengan kondisi tidak mau makan dan memiliki ketakutan abnormal terhadap kenaikan berat badan. Contoh lain adalah bulimia nervosa, kondisi ini ditandai dengan perilaku makan berlebihan, kemudian memuntahkannya secara sengaja.

“Selain itu, ada juga kondisi binge eating disorder atau kondisi saat seseorang makan terus-menerus dalam jumlah banyak dan merasa tidak bisa berhenti, tetapi tidak disertai memuntahkan makanan kembali,” sebut dr. Handri.

7. Gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder/OCD)
Seorang penderita OCD memiliki pola pikir yang terus-menerus dipenuhi oleh ketakutan atau pikiran mengganggu yang disebut dengan obsesif. Kondisi ini membuat mereka melakukan suatu ‘ritual’ secara berulang-ulang yang disebut kompulsif. Contohnya adalah orang yang terus-menerus mencuci tangan karena adanya rasa takut secara berlebihan terhadap kuman.

Baca Juga :   Beda Gejala Batuk Akibat TBC dengan Batuk Biasa

8. Gangguan pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD)
Gangguan ini merupakan gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian traumatis, seperti kematian anggota keluarga secara tiba-tiba, pelecehan seksual, atau bencana alam.

9. Sindrom respons stres atau gangguan penyesuaian
Gangguan penyesuaian terjadi ketika seseorang menjadi emosional dan mengalami perubahan perilaku setelah berada pada kondisi di bawah tekanan atau krisis, seperti perceraian, bencana alam, atau kehilangan pekerjaan.

10. Gangguan disosiatif
Gangguan disosiatif adalah kondisi ketika penderitanya mengalami gangguan parah pada identitas, ingatan, dan kesadaran akan diri sendiri dan lingkungan tempat ia berada. Gangguan ini juga kerap dikenal dengan sebutan kepribadian ganda.

Baca Juga :   Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi

11. Gangguan seksual dan gender
Gangguan seksual dan gender adalah jenis gangguan yang diketahui bisa berdampak pada gairah dan perilaku seksual seseorang, seperti parafilia dan gangguan identitas gender.

12. Gangguan somatoform
Gangguan somatoform adalah jenis gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan penderita merasa mengalami nyeri atau sakit pada anggota tubuhnya. Pada beberapa kasus, orang tersebut sebenarnya tidak ada tanda gangguan medis apa pun pada tubuhnya.

“Selain beberapa kondisi di atas, beberapa kondisi lain, seperti demensia Alzheimer dan gangguan tidur, juga dikelompokkan sebagai sakit jiwa karena melibatkan gangguan di otak,” tegas dr. Handri.

Penanganan untuk Sakit Jiwa

Berbagai penyakit di atas umumnya tidak dapat membaik dengan sendirinya atau bahkan dapat memburuk jika tidak segera ditangani. Oleh sebab itu, perlu adanya penanganan langsung dari dokter yang disesuaikan dengan tingkat keparahan, jenis, dan penyebab.

Dokter akan memberikan obat-obatan yang meliputi obat-obatan antipsikotik, antidepresi, dan anticemas. Selain pemberian obat-obatan, biasanya penderita sakit jiwa akan mendapatkan salah satu atau beberapa terapi, seperti psikoterapi, stimulasi otak untuk menangani gangguan mental dan depresi, atau perawatan di rumah sakit jiwa.

Baca Juga :   Diduga Bantu Bjorka, Polri Jerat Pemuda Madiun dengan UU ITE

“Di samping perawatan secara medis, dukungan keluarga dan kondisi lingkungan yang nyaman juga menjadi faktor penentu kesembuhan penderita sakit jiwa agar dapat kembali beraktivitas normal,” tandas dr. Handri.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda atau keluarga Anda memiliki tanda-tanda gangguan kesehatan mental yang berisiko berkembang menjadi kondisi sakit jiwa. Dengan begitu, dokter dapat melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan yang sesuai. Semoga bermanfaat. []

Baca Juga :   Panasonic Manufacturing Indonesia Ekspor Lemari Es Perdana ke Kamboja
Facebook Comments Box

Berita Terkait

Said Didu Ungkap Bahaya Praktik Ekonomi Rakus ‘Serakahnomics’
WhatsApp, Google Maps dan X Bisa Digunakan Tanpa Internet
PGN Salurkan Gas Alam ke Cluster Mandar Bintaro
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tanah yang Dikuasai Perusahaan Skala Besar
BNN Identifikasi dan Musnahkan 2 Ladang Ganja
IONATION 2025 Hadirkan Maia Estianty, Ajak Masyarakat Lebih Peduli Kesehatan
Hari Anak Nasional 2025: TNP Group, MUGU, dan Sahabat Anak Hadirkan Ruang Bermain Bermakna di Cijantung
Poli deCent, Langkah Strategis RS MMC Hadapi Gangguan Mental di Era Modern

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 00:50 WIB

Poster Terbaru Film Na Willa Tampilkan Dunia Imajinasi Anak

Senin, 2 Maret 2026 - 00:33 WIB

Crunchyroll Umumkan Serial (OSHI NO KO) Season 2 Tayang Musim Semi 2026

Jumat, 20 Februari 2026 - 01:43 WIB

Pedangdut Nisa Farella Kembali Berkarya dengan Single Legowo

Senin, 16 Februari 2026 - 21:58 WIB

Natasha Pramudita Buktikan Relevansi Karier Bermusiknya Melalui Single Mendadak Dangdut

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:20 WIB

Mahia, Maseja dan Chrisalia Jadi Sorotan di Main-Main Cipete Vol. 39

Selasa, 20 Januari 2026 - 17:09 WIB

Unit Skatepunk, Man Sinner Getarkan Kopi Wangsa Bogor di Buitenstage

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:10 WIB

Tanah Air Project Hadirkan Pesan Toleransi di Festival Gospel Gifest 2026

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:25 WIB

Man Sinner Tutup Swag Event Episode 130 dengan Energi Penuh

Berita Terbaru