Jakarta | Bank yang dikelola Pemerintah Thailand, Government Savings Bank (GSB), berkomitmen akan berusaha mempertahankan suku bunganya selama mungkin di tengah tren global yang meningkat, untuk meringankan beban para peminjamnya.
Presiden GSB Vitai Ratanakorn menyarankan perusahaan untuk meningkatkan likuiditas mereka, yang dapat terpukul setelah kenaikan suku bunga di masa depan.
Mengutip Bangkok Post, Bank of Thailand telah memberi isyarat bahwa kenaikan suku bunga kebijakan akan terjadi dalam waktu dekat, sebagai tanggapan terhadap inflasi yang terus melonjak. Lembaga riset memprediksi, Thailand akan memasuki siklus kenaikan tarif pada semester kedua tahun ini.
Vitai tidak dapat memprediksi apakah bank akan mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun ini, atau berapa lama dapat mempertahankan suku bunga saat ini, lantaran situasi ekonomi berubah dengan cepat.
Dia juga mengatakan bahwa upaya GSB mempertahankan suku bunga dapat mempengaruhi keuntungan bank, namun pihaknya siap menanggung beban tersebut. Pada semester pertama tahun ini, keuntungan GSB telah melampaui target.
Non-performing loan (NPL) GSB mencapai 2,7% dari total per Mei, sementara cadangannya 165% dari nilai NPL. Menurutnya, pinjaman dengan suku bunga tetap tidak akan terpengaruh oleh kenaikan suku bunga saat membayar cicilan bulanan.
Peminjam baru harus membayar cicilan yang lebih tinggi. Misalnya, jika pelanggan meminjam 1 juta baht, pada umumnya pelanggan akan membayar cicilan bulanan sebesar 7.000 baht. Jika meminjam setelah kenaikan suku bunga, angsuran bisa melonjak menjadi 7.500-8.000 baht per bulan.
GSB baru-baru ini bermitra dengan Dhipaya Group Holdings dan Bangchak Corporation untuk mendirikan usaha patungan pinjaman dengan menggunakan sertifikat tanah sebagai jaminan, dalam upaya memungkinkan usaha kecil dan individu lebih mudah mengakses pinjaman dengan biaya lebih rendah. []












