Jakarta | Tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) mengarah ke kenaikan tahunan terbesar sejak 1981. Ini menunjukkan bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dapat meningkatkan kebijakan kenaikan bunga sebesar 50 basis poin hingga September untuk mengatasi inflasi.
Data Departemen Tenaga Kerja AS pada pekan lalu yang melaporkan kenaikan inflasi juga menunjukkan lonjakan sewa terbesar sejak 1990. Tak hanya itu, harga makanan pun ikut naik, bahkan lonjakan harga bensin mencapai rekor tertinggi. Meluasnya tekanan harga akhirnya memaksa warga AS mengubah kebiasaan belanja mereka.
Tak hanya itu, inflasi yang tinggi juga menimbulkan risiko politik bagi Presiden AS Joe Biden dan Partai Demokratnya dalam pemilihan paruh waktu pada November nanti. Sebuah survei menunjukkan bahwa sentimen konsumen mencapai rekor terendah pada awal Juni.
“The Fed sekarang percaya itu berada di belakang kurva inflasi dan harus bertindak lebih tegas. Stagflasi adalah skenario yang paling mungkin untuk beberapa tahun ke depan, dengan potensi resesi meningkat,” kata profesor keuangan dan ekonomi di Loyola Marymount University Sung Won Sohn, seperti dikutip dari Reuters.
Data Reuters menunjukkan, harga bensin di AS melonjak 4,1% setelah sebelumnya turun 6,1% pada April. Menurut data AAA, harga bensin hampir menyentuh USD 5 per galon pada Jumat.
Selain itu, harga pangan naik 1,2%, dengan biaya makanan yang dikonsumsi dalam rumah tangga meningkat 1,4%, menandai kenaikan kelima berturut-turut setidaknya 1,0%. Kenaikan paling besar terjadi pada harga susu dan produk terkait sejak Juli 2007. Harga pangan melonjak terutama setelah perang Rusia-Ukraina.[]












