WHO: Dua Pertiga Populasi Dunia Telah Miliki Antibodi Covid

- Editor

Jumat, 3 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi alat tes Covid-19. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/SamuelFrancisJohnson)

Ilustrasi alat tes Covid-19. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/SamuelFrancisJohnson)

Jakarta | Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memprediksi saat ini sudah lebih dari dua pertiga populasi dunia memiliki tingkat antibodi Covid-19 yang signifikan, yang berarti mereka telah terinfeksi atau divaksinasi.

Dalam ringkasan studi dari seluruh dunia, WHO menyebut tingkat seroprevalensi melonjak, dari 16% pada Februari 2021, menjadi 67% pada Oktober. Mengingat, munculnya varian omicron yang menyebar cepat, angkanya mungkin lebih tinggi sekarang.

Mengutip Bloomberg, rangkuman WHO menawarkan gambaran tentang seberapa baik dunia meningkatkan resistensi terhadap pandemi.

Sementara vaksin hanya memberikan perlindungan sederhana terhadap infeksi dari omicron, WHO masih mendesak negara-negara untuk meningkatkan tingkat vaksinasi, terutama bagi orang-orang dalam kelompok berisiko tinggi, lantaran imunisasi memberikan tingkat perlindungan yang lebih tinggi terhadap penyakit parah daripada infeksi Covid sebelumnya.

WHO juga menyebutkan, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang telah terinfeksi Covid dan divaksinasi memiliki perlindungan terbaik terhadap hasil yang parah, meskipun tidak jelas apakah itu benar dengan varian baru.

Data WHO menunjukkan tingkat seroprevalensi yang lebih rendah pada anak-anak berusia 9 tahun ke bawah dan pada orang di atas 60 tahun dibandingkan dengan mereka yang berusia 20-an. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kebanyakan seroprevalensi menunjukkan infeksi masa lalu daripada vaksinasi.

Kehadiran antibodi umumnya berkurang dari waktu ke waktu, kemudian tingkat dan kegigihan kekebalan tergantung pada sejumlah faktor. WHO juga menyatakan pihaknya masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan seberapa cepat perlindungan berkurang.[]

Facebook Comments Box
Baca Juga :   Kasus Covid di AS Melonjak, Perusahaan Keuangan Tunda Rencana Kembali ke Kantor

Berita Terkait

Shakira dan Burna Boy Hidupkan Semangat Global di Mexico City
Said Didu Ungkap Bahaya Praktik Ekonomi Rakus ‘Serakahnomics’
BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
WhatsApp, Google Maps dan X Bisa Digunakan Tanpa Internet
PGN Salurkan Gas Alam ke Cluster Mandar Bintaro
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tanah yang Dikuasai Perusahaan Skala Besar
BNN Identifikasi dan Musnahkan 2 Ladang Ganja
Kebut Jargas Bintaro, PGN Aliri Gas Kebayoran Villas dan Terrace

Berita Terkait

Kamis, 9 Oktober 2025 - 22:00 WIB

BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence

Jumat, 10 Mei 2024 - 19:58 WIB

Temuan Potongan Tikus Picu Penarikan Roti Terkenal di Jepang

Minggu, 28 April 2024 - 13:46 WIB

Alroji Saku John Jacob Astor Pecahkan Rekor Harga Artefak Titanic

Minggu, 4 Juni 2023 - 18:03 WIB

Kecelakaan Kereta Mematikan di India Terkait Kegagalan Sistem Sinyal

Senin, 15 Mei 2023 - 17:28 WIB

Biden Optimis Bisa Sepakat dengan Republik untuk Menaikkan Batas Utang

Selasa, 14 Februari 2023 - 21:05 WIB

Ford Pangkas 1.300 Pekerjaan di Inggris

Sabtu, 31 Desember 2022 - 13:42 WIB

Tesla Babak Belur di Wall Street

Senin, 26 Desember 2022 - 11:29 WIB

Pesan Natal, Paus Fransiskus Minta Perang Rusia-Ukraina Diakhiri

Berita Terbaru