Jakarta | Negosiator perdagangan utama Taiwan mengimbau Amerika Serikat (AS) untuk tidak melupakan bahwa Taiwan menginginkan kesepakatan perdagangan bebas. Sebelumnya pada pekan lalu, kedua negara itu mengumumkan Inisiatif AS-Taiwan baru tentang Perdagangan Abad ke-21, yang mempertimbangkan pembicaraan perdagangan baru.
Taiwan memang sudah lama berkampanye untuk kesepakatan semacam itu, berharap bisa mendapat dukungan yang kuat dalam menghadapi tekanan diplomatik dan militer yang tak henti-hentinya dari Tiongkok.
“Ini adalah harapan kami, kami harus berbicara tentang tujuan ini dengan jelas, dan memberi tahu saya lebih banyak orang bahwa ini adalah tujuan Taiwan yang kami harapkan,” kata negosiator perdagangan utama Taiwan John Deng, seperti dikutip dari Reuters.
“Tolong jangan lupa ini yang diinginkan Taiwan. Tapi tentu saja, kami mengerti Anda tidak bisa bergerak sekarang. Blok bangunan bisa ditetapkan terlebih dahulu, kemudian tarif bisa diatasi pada akhirnya,” lanjutnya.
Sementara Taiwan memiliki dukungan bipartisan yang kuat di Kongres dan Senat, pemerintahan Biden bulan lalu mengecualikan negara itu dari rencana ekonomi yang berfokus pada Asia yang dirancang untuk melawan pengaruh Tiongkok yang semakin besar, Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik atau Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).
Deng mengatakan, IPEF akan lebih lengkap jika Taiwan diizinkan masuk.
Tak hanya dengan AS, pengelompokan lain yang juga ingin diikuti Taiwan dan diharapkan berlaku mulai September, adalah Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik atau Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Tiongkok juga telah mengajukan dan menentang bergabungnya Taiwan.
Deng mengatakan Taiwan harus menunggu aplikasi Inggris yang lebih maju untuk disetujui terlebih dahulu sebelum negara-negara anggota, yaitu Kanada, Australia, Brunei, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura dan Vietnam, akan mempertimbangkan Taiwan.[]












