Pengusaha Garmen Asia Terpukul Kenaikan Harga Kapas

- Editor

Kamis, 2 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pabrik garmen. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/mploscar)

Ilustrasi pabrik garmen. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/mploscar)

Jakarta | Produsen pakaian jadi di Asia sedang terpukul oleh kenaikan harga kapas yang mencapai hampir dua kali lipat, tertinggi dalam 11 tahun, akibat lonjakan harga pengiriman dan bahan bakar.

Kerugian memukul rata seluruh pengusaha garmen di Asia, dengan beberapa unit yang lebih kecil menangguhkan operasi, membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan. Hal ini merusak pemulihan dari pandemi dan menimbulkan tantangan baru bagi pembuat kebijakan yang sudah berjuang melawan inflasi tinggi.

Bahkan, beberapa pembuat benang dan garmen terpaksa mengganti kapas dengan kain sintetis yang lebih murah, agar bisa tetap bertahan.

“Pabrik kami beroperasi dengan kapasitas penuh. Tapi dengan harga berapa? Kami hampir tidak mendapat untung,” kata direktur pelaksana Sterling Group Siddiqur Rahman seperti dikutip dari Reuters.

Sterling Group yang berbasis di Dhaka adalah perusahaan yang memasok ke sejumlah merek, seperti H&M dan Gap Inc.

Prospek permintaan yang tidak pasti dari Eropa di tengah perang Rusia-Ukraina telah menambah kesengsaraan produsen pakaian jadi di Asia.

Di India yang merupakan produsen kapas utama dunia, sejumlah pembuat pakaian kecil sedang berjuang memenuhi pesanan dari tiga bulan lalu, ketika harga kapas sekitar sepertiga lebih rendah dari level saat ini.

“Banyak unit kecil berhenti menerima pesanan baru,” kata presiden Asosiasi Tekstil India Ashok Juneja.

Harga kapas India telah naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun setelah hujan melanda panen.

Di India selatan, yang menyumbang sebagian besar ekspor tekstil negara itu, pabrik pemintalan pada bulan Mei memutuskan untuk berhenti memproduksi benang dan membeli kapas mentah, kata Asosiasi Pemintal India Selatan.

Penutupan itu sulit bagi pekerja industri karena banyak yang menganggur selama penguncian Covid.[]

Facebook Comments Box
Baca Juga :   Corona Ngamuk di Eropa, Belanda Catat 23 Ribu Kasus Sehari

Berita Terkait

Shakira dan Burna Boy Hidupkan Semangat Global di Mexico City
Said Didu Ungkap Bahaya Praktik Ekonomi Rakus ‘Serakahnomics’
BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
WhatsApp, Google Maps dan X Bisa Digunakan Tanpa Internet
PGN Salurkan Gas Alam ke Cluster Mandar Bintaro
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tanah yang Dikuasai Perusahaan Skala Besar
BNN Identifikasi dan Musnahkan 2 Ladang Ganja
Kebut Jargas Bintaro, PGN Aliri Gas Kebayoran Villas dan Terrace

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:08 WIB

Perpaduan Etnik, Folk, dan Elektronik, Album Jejak Milik MIRZATAMI Resmi Dirilis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 00:55 WIB

Psy dan P Nation Minta Maaf atas Kasus Obat Psikotropika

Senin, 25 Mei 2026 - 18:01 WIB

Lindee Cremona dan Kawizz Sajikan Single Hiphop Ringan Malas Tapi Terpaksa

Jumat, 22 Mei 2026 - 02:32 WIB

DNA Gandeng PARKZ, Rilis PAIN dengan Nuansa Cross-Genre

Jumat, 22 Mei 2026 - 01:13 WIB

Single TÔ Fora Satukan Eksplorasi Kreatif Nyxx, Tokio, dan Iqua

Senin, 18 Mei 2026 - 01:41 WIB

Lirik Lagu Lindee Cremona – Bukan Akhir Cerita

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:32 WIB

Merchandise Kolaborasi Hello Kitty x Jisoo BLACKPINK Hadir di Jakarta

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:52 WIB

Rahasia Intelijen Hadirkan Kritik Tajam di Lagu Suci Tanah Pembantaian

Berita Terbaru

ILustrasi Sepak Bola. (Foto: Istimewa)

Internasional

Shakira dan Burna Boy Hidupkan Semangat Global di Mexico City

Jumat, 12 Jun 2026 - 16:33 WIB