Jakarta | Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob menyatakan bahwa negaranya akan menghentikan ekspor 3,6 juta ayam utuh per bulan mulai 1 Juni 2022. Kebijakan ini berlaku sampai produksi dan harga stabil.
“Pemerintah memandang serius persoalan pasokan ayam dan kenaikan harga yang berdampak pada masyarakat,” kata Ismail dalam keterangannya seperti dikutip dari Straits Times.
Selanjutnya, Malaysia bakal mengakui lebih banyak rumah potong hewan di luar negeri untuk meningkatkan pasokan ayam dalam negeri dan izin impor untuk unggas akan dihapus. Langkah tersebut dilakukan saat Malaysia menghadapi kekurangan pasokan ayam seiring melonjaknya harga.
Ismail mengatakan buffer stock akan disimpan di fasilitas cold storage, kemudian proses klaim subsidi oleh peternak akan disederhanakan.
Pemerintah Malaysia telah menetapkan harga pagu eceran RM 8,90 per kilogram, dan memberikan subsidi kepada peternak unggas sebesar 60 sen per kg mulai dari 5 Februari sampai 4 Juni.
“Beberapa perusahaan besar tidak tertarik untuk mengajukan subsidi dan ingin pemerintah membiarkan harga ayam ditentukan oleh pasar,” tambah Ismail.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintah sudah mengetahui laporan adanya kartel yang mengendalikan harga dan produksi ayam. Komisi Persaingan Malaysia tengah menyelidiki masalah ini dan penyelidikan diharapkan selesai pada bulan depan.
Mengutip Yahoo News, importir ayam Singapura juga akan melakukan diversifikasi dan meningkatkan pasokan mereka dari sumber alternatif, untuk mengantisipasi kebijakan Malaysia menghentikan ekspor unggas.
Tahun lalu, Singapura mengimpor hampir 73.000 ton ayam dan sekitar sepertiganya berasal dari Malaysia. Hampir seluruh impor Malaysia adalah ayam hidup, yang dipotong dan didinginkan di Singapura.[]












