Jakarta | Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen menyebutkan bahwa resesi di AS bukannya tidak terelakkan, namun ekonomi kemungkinan akan melambat. Yellen mengatakan hal itu hanya beberapa hari setelah bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga, meningkatkan kekhawatiran kontraksi.
Ekonomi AS telah pulih dengan kuat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh pandemi, tetapi melonjaknya inflasi dan rantai pasokan yang diperparah oleh perang di Ukraina telah meningkatkan pesimisme.
Saham Wall Street jatuh setelah The Fed berusaha mendinginkan inflasi pada Rabu, dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 poin persentase, kenaikan paling tajam dalam hampir 30 tahun.
Selain itu, para ekonom melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa kepercayaan konsumen melemah, dengan pengeluaran untuk layanan terpengaruh paling tajam.
Orang-orang mulai menunda rencana liburan, terlihat dari pemesanan penerbangan domestik yang turun 2,3 persen bulan lalu, berdasarkan data Adobe Analytics. Tak hanya itu, banyak juga orang yang mengurangi pengeluaran seperti kunjungan restoran dan perbaikan rumah.
“Jelas inflasi sangat tinggi, sebagian disebabkan oleh perang di Ukraina, yang telah mendorong harga energi dan makanan,” kata Yellen seperti dikutip dari AFP.
Tapi Yellen mengaku tidak percaya bahwa penurunan belanja konsumen adalah kemungkinan penyebab resesi. Bahkan menurutnya, pasar tenaga kerja AS saat ini bisa dibilang yang terkuat dari periode pascaperang. Dia memprediksi perlambatan inflasi akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Ekonomi AS mengalami kontraksi sebesar 1,5 persen pada kuartal pertama tahun ini, penurunan pertama sejak 2020, dan indikasi awal menunjukkan berlanjutnya perlambatan di sektor-sektor utama termasuk manufaktur, real estat dan penjualan ritel.[]












