Profil Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, Calon Ketua Umum PBNU

0
Tokoh Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf, atau akrab disapa Gus Yahya. (Foto: Pelopor/nu.or.id)

Pelopor.id | Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama akan digelar pada 23-25 Desember 2021 dan nama Yahya Cholil Staquf serta sang incumbent Said Aqil Siroj, menguat di bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Lantas siapa itu Yahya Cholil Staquf?

Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya, lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 16 Februari 1966. Gus Yahya yang saat ini menjabat Katib Aam PBNU, adalah kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas alias Gus Yaqut. Mereka memang lahir dan besar dari keluarga santri.

Ayah mereka adalah tokoh NU sekaligus salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yaitu KH Muhammad Cholil Bisri dan ibu mereka bernama Muchisnah. Selain itu, mereka juga merupakan keponakan dari Pengasuh Pondok Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Baca juga: Profil Lodewijk Paulus, Mantan Danjen Kopassus Pengganti Azis Syamsuddin

Gus Yahya menempuh pendidikan formalnya di pesantren, sedangkan perguruan tingginya ditempuh di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada.

Ia pernah menjadi juru bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, dan pada tahun 2018 diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo.

Kemudian pada Juni 2018, Gus Yahya sempat menjadi sorotan setelah datang ke Israel menghadiri acara dialog dengan Organisasi Yahudi Israel America Jewish Commitee dan juga bertemu dengan Perdana Menteri Netanyahu. Bahkan, Gus Yahya dianggap mempermalukan Indonesia dan tak peka akan perjuangan bangsa Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Baca juga: Profil Hamdan Zoelva, Kuasa Hukum Partai Demokrat Kepemimpinan AHY

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil mengungkap NU sempat ditawari untuk berkunjung ke Israel dua tahun lalu. Namun, tawaran itu ditolak Said Aqil atas alasan Israel yang tidak mau mengakui Palestina.

Yahya pun merespons pernyataan itu. Ia menyebut, kunjungannya ke Israel pada 2018, bertujuan meneruskan ikhtiar Gus Dur. “Tapi saya pribadi memang diundang oleh salah satu simpul jaringan internasional Gus Dur, untuk bicara di forum yang sama seperti dilakukan Gus Dur 16 tahun sebelumnya. Saya penuhi undangan itu karena saya sudah memutuskan untuk berupaya meneruskan ikhtiar-ikhtiar Gus Dur menuju perdamaian,” kata Yahya, seperti dikutip dari detik.com. []