Jakarta | Solar Philippines telah mengajukan penawaran untuk mengontrakkan sebagian besar dari 10 gigawatt proyek yang direncanakan, termasuk yang terbesar di dunia, lantaran negara ini berusaha memenuhi permintaan listrik yang meningkat, sambil beralih dari batu bara.
Dalam sebuah pernyataan, Solar Philippines mengatakan jika penawaran disetujui oleh offtaker dan regulator, perusahaan berpotensi memiliki energi kontrak 9 terawatt-jam per tahun, memungkinkannya untuk memulai sebagian besar kapasitas yang ditargetkan pada tahun 2025 dan 2026.
“Fasilitas yang direncanakan akan membantu mengatasi potensi kekurangan listrik negara dan secara signifikan meningkatkan kapasitas tenaga surya yang terhubung ke jaringan nasional sebesar 1.127 megawatt pada akhir tahun 2021,” kata Presiden Solar Philippines Leandro Leviste seperti dikutip dari Bloomberg.
Berdasarkan data BloombergNEF dan BP Plc, selama ini Filipina mendapatkan sekitar 57% listriknya dari batu bara, itu sama saja dengan membakar 29 juta ton bahan bakar berkualitas tinggi.
Saat ini, Solar Philippines sedang membangun 3,5 gigawatt tenaga surya dan 4,5 gigawatt-jam penyimpanan baterai dengan miliarder Enrique Razon, yang disebutnya akan menjadi proyek tenaga surya terbesar di dunia dan meningkatkan dua kali kapasitas tenaga surya yang ada di negara itu.
Unit lain sedang mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya 500 megawatt di provinsi Nueva Ecijia di utara, dan juga memiliki usaha dengan pihak lain, termasuk unit Ayala Corp.[]












