Pelopor.id | Jakarta – Maskapai Skandinavia, SAS, telah mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja yang mewakili pilot mereka, sehingga aksi mogok para pilot yang telah berlangsung selama dua minggu pun berakhir.
Maskapai mengalami kerugian sebesar USD 9 juta hingga USD 12 juta per hari akibat aksi mogok itu, menambah kesengsaraan SAS yang sudah mengalami kesulitan finansial sebelumnya.
Kesepakatan itu dikonfirmasi oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja, setelah menjalani sesi negosiasi yang berlangsung sejak Senin hingga Selasa dini hari.
“Akhirnya, kami dapat melanjutkan operasi normal dan menerbangkan pelanggan kami pada liburan musim panas yang sangat mereka rindukan. Saya sangat menyesal bahwa begitu banyak penumpang kami terkena dampak pemogokan ini,” kata kepala eksekutif Anko van der Werff dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP.
Para pilot SAS telah mogok sejak 4 Juli, ketika hampir 1.000 dari mereka keluar dari pekerjaan setelah pembicaraan gagal.
Mereka memprotes pemotongan gaji yang diminta oleh manajemen sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang bertujuan memastikan kelangsungan hidup perusahaan, dan keputusan perusahaan untuk tidak mempekerjakan kembali pilot yang diberhentikan selama pandemi.
Di bawah kesepakatan baru, 450 pilot akan dipekerjakan kembali.
SAS, yang mempekerjakan hampir 7.000 orang, terutama di Denmark, Norwegia dan Swedia, juga berusaha mengumpulkan sekitar 9,5 miliar kronor dalam modal baru.
“Kami sekarang melanjutkan pekerjaan penting untuk memajukan rencana transformasi kami SAS FORWARD dan membangun SAS yang kuat dan kompetitif untuk generasi mendatang,” kata van der Werff.
Musim panas secara keseluruhan menjadi sulit bagi maskapai dan bandara Eropa, yang dihadapkan dengan kekurangan staf yang memengaruhi lalu lintas udara. Setelah kehilangan pekerjaan yang meluas terkait pandemi, maskapai dan bandara berjuang merekrut staf baru di banyak negara.[]












