Pelopor.id | Jakarta – Banyaknya pembeli rumah yang mengancam menghentikan pembayaran pinjaman atas pembangunan apartemen yang belum selesai, telah membuat sejumlah bank di Tiongkok terpukul dari sektor kualitas aset dari bisnis hipotek.
Analis memprediksi aksi protes yang serius akan menambah eksposur risiko pemberi pinjaman di sektor properti yang kekurangan uang tunai. Ancaman itu diprediksi akan mendorong kenaikan rasio kredit macet hipotek bank sebesar 3-5 kali lipat.
Laporan data ANZ yang dilansir dari Reuters menunjukkan bahwa pinjaman hipotek terkait proyek perumahan yang belum selesai di Tiongkok mencapai 1,5 triliun yuan atau sekitar USD 220 miliar. Itu bisa berisiko pada aksi protes pembeli rumah semakin masif.
Sebelumnya, kondisi perbankan di Tiongkok juga sempat memburuk tahun lalu akibat pengembang yang gagal memenuhi kewajiban utangnya.
Beberapa developer Tiongkok yang belum menyelesaikan proyeknya antara lain Evergrande Group dan Sinic Holdings.
Setelah makin banyak pembeli rumah yang menolak membayar hipotek pada proyek yang macet, situasi ini mengundang otoritas Tiongkok untuk mengadakan pertemuan darurat dengan bank.
Menanggapi hal tersebut, pelaku pasar saham mengungkapkan pihak berwenang harus melakukan intervensi lebih awal untuk menyelesaikan krisis. Jika tidak, pengembang properti yang tertekan mungkin tidak akan mampu melanjutkan konstruksi dalam waktu dekat akibat krisis likuiditas.[]












