Jakarta | Jerman semakin dekat dengan penjatahan gas alam lantaran menaikkan tingkat siaga di bawah rencana darurat, setelah Rusia memangkas pasokan ke negara itu.
“Gas sekarang menjadi komoditas langka di Jerman,” kata Menteri Ekonomi Robert Habeck seperti dikutip dari AFP.
Habeck menilai, Rusia menggunakan gas “sebagai senjata” melawan Jerman sebagai pembalasan atas dukungan Barat untuk Ukraina, setelah invasi Moskow dengan tujuan menghancurkan persatuan Eropa.
Untuk diketahui, raksasa energi Rusia, Gazprom, pekan lalu telah memangkas pasokan ke Jerman melalui pipa Nord Stream sebesar 60%, dengan alasan batasan baru pada perbaikan yang tertunda.
Jerman menolak alasan Gazprom, alih-alih menyebut langkah itu sebagai keputusan politik. Namun, Rusia membantah pernyataan Jerman bahwa ada motif politik di balik pembatasan pasokan gas.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tidak ada makna ganda dalam keputusan pasokan.
“Mitra Jerman kami sangat menyadari siklus servis teknologi pipa. Aneh menyebutnya politik,” katanya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Gazprom telah menghentikan pengiriman ke sejumlah negara Eropa, termasuk Polandia, Bulgaria, Finlandia dan Belanda.
Jerman, seperti sejumlah negara Eropa lainnya, selama ini memang sangat bergantung pada impor energi Rusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Habeck mengatakan, pasokan gas ke ekonomi terbesar Eropa masih aman, namun tindakan masih diperlukan untuk mempersiapkan musim dingin mendatang. Untuk memitigasi risiko pemotongan pasokan, pemerintah mengamanatkan fasilitas penyimpanan gas terisi hingga 90% pada awal Desember. []












