Pelopor.id | Jakarta – Perang Rusia-Ukraina membuat utang obligasi senilai hampir USD 237 miliar berisiko gagal bayar, terutama oleh negara-negara berkembang. Menurut data Bloomberg, nilai utang itu menambahkan sekitar 17% dari utang luar negeri negara berkembang senilai USD 1,4 triliun dalam mata uang dolar, euro atau yen.
Pengamat pasar berkembang melihat momen saat ini memiliki kemiripan dengan sejumlah krisis keuangan dalam beberapa dekade terakhir, yang terburuk adalah bencana utang Amerika Latin tahun 1980-an.
Saat itu, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) tiba-tiba menaikkan suku bunga dengan cepat dalam upaya meredakan inflasi, namun memicu lonjakan nilai dolar yang mempersulit negara-negara berkembang membayar obligasi asing mereka.
Dengan perang Rusia-Ukraina yang terus menekan harga komoditas, kenaikan suku bunga global dan dolar AS menegaskan kekuatannya, beban bagi sejumlah negara kemungkinan besar tidak dapat ditoleransi.
Beberapa di antara negara berkembang, seperti Sri Lanka dan Lebanon, sudah dalam keadaan default. Bahkan, ada sejumlah negara yang diprediksi menyusul Sri Lanka dan Lebanon.
Contohnya, Pakistan yang belakangan ini melanjutkan pembicaraan dengan IMF seiring menipisnya dolar untuk pembayaran utang setidaknya USD 41 miliar dalam setahun ke depan dan untuk mendanai impor. Ada juga Argentina yang inflasinya diprediksi mencapai 70% pada akhir tahun.[]












