Jakarta | Penyedia telekomunikasi yang berbasis di Filipina, PLDT Inc., memblokir lebih dari 23 juta pesan teks hanya dalam tiga hari. Pesan singkat atau SMS yang diblokir diduga mencoba mendapatkan data pribadi konsumen, menunjukkan peningkatan risiko keamanan siber di negara tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip Bloomberg, PLDT menyebutkan pihaknya memblokir pesan “jahat” sejak tanggal 11 hingga 14 Juni 2022. Pesan itu berisi tautan ke apa yang disebut situs web phishing yang menyamar sebagai organisasi yang sah, seperti bank, operator tur dan agen perekrutan.
Industri telekomunikasi Filipina memang telah berusaha keras meningkatkan upayanya untuk mengekang penipuan.
Sepanjang tahun lalu, PLDT telah memblokir hampir 78.000 kartu SIM yang mencoba mencuri data pribadi, dan menginvestasikan 3 miliar peso atau sekitar USD 55,6 juta untuk melawan ancaman siber.
Kompetitor PLDT yaitu Globe Telecom Inc. juga menyatakan telah memblokir lebih dari satu miliar pesan ponsel yang meragukan pada tahun lalu.
Komisi Privasi Nasional Filipina atau The National Privacy Commission mengatakan pada bulan November bahwa sindikat kejahatan global berada di balik gelombang pesan penipuan yang meminta informasi pribadi.[]












