Jakarta | Iceland Foods Ltd., salah satu jaringan supermarket paling terkenal di Inggris, memutuskan untuk menghilangkan plastik dari produknya. Namun, mereka tidak mengantisipasi lonjakan pengutilan.
Salah satunya adalah ketika Iceland Foods mulai menjual steak dalam nampan kertas yang dapat didaur ulang. Eksekutif perusahaan mengatakan bahwa sejumlah pelanggan membengkokkan wadah yang lentur menjadi dua dan memasukkannya ke dalam celana mereka. Pencurian seperti itu tidak semudah ketika steak datang terbungkus dalam kemasan plastik yang lebih kaku.
Iceland Foods, toko kelontong yang berfokus pada makanan beku dengan sekitar 1.000 toko di Inggris, bergulat dengan sejumlah tantangan tak terduga saat berlomba memenuhi targetnya sendiri untuk memantangkan plastik sekali pakai bagi ratusan produknya pada akhir tahun depan.
Sejauh ini, peritel tersebut telah memotong atau menghilangkan plastik pada lusinan produk, mulai dari ikan dan ayam hingga buah-buahan. Namun, para eksekutif pesimis mereka bisa mencapai target tepat waktu.
Apalagi dengan adanya lonjakan permintaan makanan yang dibungkus plastik selama pandemi dan gangguan rantai pasokan baru-baru ini yang dipicu perang Rusia-Ukraina membuat target itu semakin sulit.
Kemasan kertas yang lebih mahal juga terbukti menjadi beban pada saat inflasi merajalela, terutama karena Iceland Foods biasanya melayani konsumen yang lebih sensitif terhadap harga.
“Anda masuk ke toko kami, itu masih dinding plastik dan itu sangat membuat frustrasi. Kami tidak akan beralih dari A ke Z seperti membalik saklar,” kata direktur pelaksana Iceland Foods Richard Walker seperti dikutip dari Wall Street Journal.
Gerakan nol-plastik juga menghasilkan serangkaian konsekuensi yang tidak diinginkan. Misalnya, ketika Iceland Foods membungkus pisang dengan pita kertas alih-alih kantong plastik, buahnya membusuk lebih cepat atau patah.
Kemudian, ketika mengemas roti dalam kantong kertas buram, penjualan turun akibat pembeli menolak keras membeli sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.[]












