Jakarta | Sejak Rusia melancarkan serangan militernya pada 24 Februari 2022 hingga kini, kerugian industri pertanian Ukraina diprediksi telah mencapai USD 4,3 miliar. Tak hanya pertanian, invasi Rusia juga telah menghancurkan mesin dan peternakan. Menurut perkiraan para peneliti, ada sekitar 5,7 juta unggas yang mati.
Berdasarkan laporan Kyiv School of Economics, sebagian besar kerusakan berasal dari polusi akibat ranjau dan tanaman yang tidak dipanen. Tak hanya itu, gandum senilai USD 613 juta telah dicuri dari sejumlah wilayah di Ukraina dan dikirim ke Rusia.
“Ekonomi Ukraina diproyeksikan berkontraksi sebesar 45% dan puluhan juta di seluruh dunia terancam kelaparan karena terganggunya ekspor biji-bijian dari Ukraina dan berlanjutnya kerusakan pada sektor pertanian pangannya,” tulis laporan itu, seperti dikutip Bloomberg.
Bloomberg mencatat bahwa harga pangan global mendekati rekor tertinggi, dengan jutaan ton biji-bijian dan minyak sayur tertahan di Ukraina. Seperti diketahui, pasukan Rusia melakukan blokade terhadap pelabuhan, sehingga menghambat ekspor Ukraina.
Akhirnya, eksportir biji-bijian Ukraina terpaksa membuat rute ekspor baru melalui Laut Baltik, namun laju penjualan masih jauh dari kecepatan normal. Ukraina pun diprediksi akan kehabisan ruang untuk menyimpan hasil panen yang akan datang.[]












