Jakarta | Lebih dari 160.000 pekerja migran akan dibawa ke Thailand tanpa memerlukan karantina berdasarkan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang baru ditandatangani dalam upaya membendung pelintas batas ilegal yang mencari pekerjaan.
Kementerian Tenaga Kerja Thailand menyebutkan bahwa sejak Rabu pihaknya telah membebaskan karantina untuk pekerja migran yang masuk ke Thailand melalui MoU yang ditandatangani dengan Myanmar, Laos dan Kamboja, asalkan mereka telah diberi vaksin dosis ganda dan memiliki hasil tes negatif untuk Covid-19.
Mengutip Bangkok Post, secara total warga Thailand telah mengajukan permohonan untuk mengimpor 236.012 pekerja migran dari tiga negara tetangga. Dari jumlah tersebut, 165.376 berasal dari Myanmar, 52.428 dari Kamboja, dan 18.208 dari Laos.
Menteri Tenaga Kerja Thailand Suchart Chomklin mengatakan, pembebasan karantina Covid dilakukan seiring dengan pembukaan kembali perbatasan yang diperintahkan oleh Pusat Administrasi Situasi Covid-19 atau Centre for Covid-19 Situation Administration (CCSA) yang dipimpin Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha.
Suchart mengatakan, pengabaian karantina juga berlaku untuk pekerja migran yang melintasi perbatasan setiap hari dan kembali ke negara mereka pada malam hari, serta pekerja musiman.
Selain divaksinasi lengkap, para pekerja harus sudah membeli asuransi kesehatan. Mereka juga harus menjalani pemeriksaan kesehatan dan harus menjalani tes ATK.
Jika mereka diberikan surat kesehatan yang bersih, mereka akan diberikan izin kerja dan majikan dapat membawa mereka untuk bekerja di perusahaan mereka. Namun, jika terdeteksi Covid-19, para pekerja akan dikarantina.
Biaya yang terkait dengan karantina atau perawatan akan ditanggung oleh asuransi kesehatan senilai minimal USD 4.000 yang telah dikeluarkan pekerja. Jika biaya melebihi asuransi, majikan harus membayar jumlah terutang.[]












