Jakarta | Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan bahwa pihaknya tak dapat berbuat banyak untuk menurunkan harga energi dan pangan dalam jangka pendek, lantaran Gedung Putih berjuang menahan dampak inflasi yang sangat tinggi.
Melonjaknya harga telah menjadi tanggung jawab utama bagi Biden dan Partai Demokrat, lantaran berusaha meningkatkan posisi mereka dengan pemilih menjelang pemilihan paruh waktu November.
“Ada banyak hal yang terjadi saat ini, tetapi gagasan bahwa kita akan dapat, Anda tahu, mengklik tombol, menurunkan biaya bensin, tidak mungkin dalam waktu dekat, juga tidak berkaitan dengan makanan,” kata Biden seperti dilansir dari The Wall Street Journal.
Harga bensin mencapai rekor tertinggi USD 4,67 untuk satu galon reguler pada Rabu (01/06/2022), menurut AAA. Sementara itu, inflasi tahunan cenderung di atas 8%, tertinggi selama empat dekade, menurut indeks harga konsumen Departemen Tenaga Kerja.
“Kami tidak dapat mengambil tindakan segera yang saya ketahui untuk mengetahui bagaimana kami akan menurunkan harga bensin kembali menjadi USD 3 per galon. Tetapi kami dapat mengimbanginya dengan menyediakan biaya lain,” kata Biden.
Biden menyebut pajak dapat dinaikkan pada perusahaan dan orang kaya untuk membantu membayar pengurangan defisit dan memberikan bantuan bagi keluarga. Menurutnya, rencana seperti itu, yang dibahas Demokrat di Kongres, tidak akan menjadi inflasi.
Namun, untuk menaikkan pajak, Biden akan membutuhkan dukungan seragam dari partainya sendiri di Senat, hal yang telah dia hindari selama berbulan-bulan. Untuk diketahui, kenaikan pajak adalah hal yang ditentang keras oleh Partai Republik.[]












