Pelopor.id | Pemerintah Kanada memutus kontrak dengan produsen sarung tangan asal Malaysia, Supermax Corp., menyusul adanya tuduhan tentang kerja paksa.
“Pemerintah Kanada telah memutuskan, dan Supermax Healthcare Canada telah setuju, untuk mengakhiri dengan persetujuan bersama dua kontrak yang ada untuk penyediaan sarung tangan nitril,” ujar Departemen Pengadaan dan Layanan Publik Kanada dalam pernyataan resmi kepada Reuters.
Keputusan yang diambil Pemerintah Kanada ini menyusul larangan impor yang dikeluarkan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (AS) terhadap Supermax pada Oktober lalu. Menurut Bea Cukai AS, ada indikasi kerja paksa dalam operasi manufaktur di perusahaan Malaysia tersebut.
Beberapa waktu terakhir, sejumlah pabrik Malaysia, mulai dari produsen sarung tangan medis hingga minyak kelapa sawit, memang semakin disorot atas tuduhan penyalahgunaan pekerja asing.
Pada November lalu, produsen peralatan rumah tangga Dyson mengakhiri kontrak dengan supplier suku cadang terbesarnya ATA IMS Bhd asal Malaysia, dengan dasar tuduhan kerja paksa.
Terkait hal itu, ATA telah mengakui sejumlah pelanggaran. Perusahaan itupun melakukan perbaikan dan mengklaim telah mematuhi semua peraturan dan sesuai standar. []












