Jakarta | Produsen pakaian jadi di Asia sedang terpukul oleh kenaikan harga kapas yang mencapai hampir dua kali lipat, tertinggi dalam 11 tahun, akibat lonjakan harga pengiriman dan bahan bakar.
Kerugian memukul rata seluruh pengusaha garmen di Asia, dengan beberapa unit yang lebih kecil menangguhkan operasi, membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan. Hal ini merusak pemulihan dari pandemi dan menimbulkan tantangan baru bagi pembuat kebijakan yang sudah berjuang melawan inflasi tinggi.
Bahkan, beberapa pembuat benang dan garmen terpaksa mengganti kapas dengan kain sintetis yang lebih murah, agar bisa tetap bertahan.
“Pabrik kami beroperasi dengan kapasitas penuh. Tapi dengan harga berapa? Kami hampir tidak mendapat untung,” kata direktur pelaksana Sterling Group Siddiqur Rahman seperti dikutip dari Reuters.
Sterling Group yang berbasis di Dhaka adalah perusahaan yang memasok ke sejumlah merek, seperti H&M dan Gap Inc.
Prospek permintaan yang tidak pasti dari Eropa di tengah perang Rusia-Ukraina telah menambah kesengsaraan produsen pakaian jadi di Asia.
Di India yang merupakan produsen kapas utama dunia, sejumlah pembuat pakaian kecil sedang berjuang memenuhi pesanan dari tiga bulan lalu, ketika harga kapas sekitar sepertiga lebih rendah dari level saat ini.
“Banyak unit kecil berhenti menerima pesanan baru,” kata presiden Asosiasi Tekstil India Ashok Juneja.
Harga kapas India telah naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun setelah hujan melanda panen.
Di India selatan, yang menyumbang sebagian besar ekspor tekstil negara itu, pabrik pemintalan pada bulan Mei memutuskan untuk berhenti memproduksi benang dan membeli kapas mentah, kata Asosiasi Pemintal India Selatan.
Penutupan itu sulit bagi pekerja industri karena banyak yang menganggur selama penguncian Covid.[]












