Svalbard Norwegia Berusaha Pertahankan Pariwisata Berkelanjutan

- Editor

Sabtu, 28 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepulauan Svalbard, Norwegia, yang berlokasi di Kutub Utara. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/EinarStorsul)

Kepulauan Svalbard, Norwegia, yang berlokasi di Kutub Utara. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/EinarStorsul)

Jakarta | Kepulauan Svalbard, Norwegia, yang berlokasi di Kutub Utara, mencoba mencari cara untuk mendapatkan keuntungan dari hutan belantaranya yang masih asli, tanpa merusak habitat beruang kutub.

Kepulauan Svalbard, terletak 1.300 kilometer (800 mil) dari Kutub Utara dan dapat dicapai dengan penerbangan maskapai komersial, menawarkan kepada pengunjung bentangan alam yang luas, dengan pegunungan megah, gletser, dan fiord atau fjord beku yang merupakan semacam teluk dari lelehan gletser.

Kini, Svalbard berada di garis depan perubahan iklim, dengan pemanasan Arktik tiga kali lebih cepat daripada bumi.

Tambang batu bara lokal, alasan awal pemukiman manusia di sini, telah ditutup satu demi satu selama bertahun-tahun, dan pariwisata telah menjadi salah satu pilar utama ekonomi lokal, bersama dengan penelitian ilmiah.

“Selalu sulit untuk dipertahankan karena kita tahu bahwa pariwisata di seluruh dunia menciptakan tantangan bagi semua tempat yang dikunjungi orang, tetapi juga dalam perspektif perubahan iklim yang lebih besar,” kata Kepala Dewan Pariwisata Visit Svalbard Ronny Brunvoll yang dikutip dari AFP.

“Kita tidak bisa menghentikan orang untuk saling mengunjungi, jadi kita harus mencari solusi,” katanya.

Data pra-pandemi menunjukkan, sekitar 140.000 orang mengunjungi garis lintang ini setiap tahun, di mana 65 persen tanahnya dilindungi.

Seperti 3.000 penduduk lokal, pengunjung harus mengikuti aturan ketat yang melarang mereka mengganggu hewan, melacak beruang kutub dapat menyebabkan denda besar, atau memetik bunga di ekosistem yang nyaris tanpa vegetasi.

Bahan bakar berat yang sangat berpolusi, yang biasa digunakan kapal pesiar besar, telah dilarang di kepulauan itu sejak awal tahun, menjelang larangan yang akan diterapkan secara progresif di seluruh Kutub Utara mulai 2024.

Baca Juga :   Pekerja Amazon di New York Resmi Luncurkan Serikat Pekerja

Longyearbyen, kota utama di kepulauan itu, berencana menutup pabrik pada musim gugur 2023, berinvestasi dalam energi terbarukan dan mengurangi emisi hingga 80% pada 2030.[]

Facebook Comments Box

Berita Terkait

BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
Temuan Potongan Tikus Picu Penarikan Roti Terkenal di Jepang
Alroji Saku John Jacob Astor Pecahkan Rekor Harga Artefak Titanic
Kecelakaan Kereta Mematikan di India Terkait Kegagalan Sistem Sinyal
Biden Optimis Bisa Sepakat dengan Republik untuk Menaikkan Batas Utang
Ford Pangkas 1.300 Pekerjaan di Inggris
Tesla Babak Belur di Wall Street
Pesan Natal, Paus Fransiskus Minta Perang Rusia-Ukraina Diakhiri

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 01:22 WIB

Lindee Cremona Rilis Lagu dan Video Klip Bukan Akhir Cerita

Senin, 11 Mei 2026 - 17:03 WIB

Java Jazz Festival 2026 Hadirkan Shuttle Gratis ke Venue di NICE PIK 2

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:22 WIB

Westlife Bakal Konser di GBK, Rayakan HUT ke-25 Bareng Fans Jakarta

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:51 WIB

Video Klip Baru Wen & the Wknders: “(Tak Mungkin) Mencari Penggantimu”

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:51 WIB

Komposer Andal Indonesia, James F. Sundah Meninggal Dunia

Senin, 4 Mei 2026 - 16:23 WIB

Raih 8 Platinum Awards, Ade Govinda Ungkap Rasa Syukur

Senin, 4 Mei 2026 - 14:49 WIB

Lindee Cremona Tampilkan Vokal Tulus di Single Doa Untuk Ayah

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:12 WIB

Konser Perdana di Jakarta, Josh Holmes Perkenalkan Single Last First Kiss

Berita Terbaru