Pelopor.id | Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada tahun ini. Hal itupun membuat bisnis perbankan di AS diproyeksi tumbuh, baik dari sisi simpanan maupun penyaluran kredit.
Selain itu, pendapatan bunga bersih (NIM) perbankan mulai membaik seiring pemulihan ekonomi, yang sebelumnya sempat turun akibat suku bunga rendah dan penyaluran kredit.
Kebijakan The Fed ini diyakini akan mengakhiri era suku bunga rendah yang dihadapi bank beberapa tahun terakhir, terutama demi melalui masa sulit pandemi.
“Bank yang selama sepuluh tahun terakhir tidak dapat menikmati kurva imbal hasil yang stabil, maka akan mendapatkannya,” ujar Direktur Riset CFRA Research Ken Leon, dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, Analis Barclays Jason Goldberg menyebut, pendapatan bunga bersih menyumbang 60% dari pendapatan industri perbankan pada kuartal keempat tahun lalu. Itu adalah proporsi terendah dalam enam tahun terakhir dan turun dari 66% pada tiga tahun lalu.
Goldberg memperkirakan pendapatan bunga bersih akan meningkat dan berlanjut hingga 2023.
Menanggapi hal ini, sejumlah perbankan pun mengungkapkan optimismenya. JPMorgan Chase & Co misalnya, mengatakan kepada analis bahwa pendapatan bunga bersih di luar pasar sekuritas pada tahun ini dapat mencapai USD 50 miliar. Nilai itu meningkat 12% dari realisasi tahun lalu.
Begitu juga Wells Fargo & Co yang memprediksi pendapatan bunga bersihnya bisa naik 8%.
Beberapa bank AS akan mendapatkan keuntungan lebih besar, namun bergantung pada kemampuan mereka mempertahankan simpanan dengan biaya rendah, kemudian disalurkan sebagai kredit dan investasi ke sekuritas dengan imbal hasil yang lebih tinggi. []












