Pelopor.id | GlaxoSmithKline (GSK) menolak tawaran senilai 50 miliar poundsterling dari Unilever, untuk unit bisnis barang konsumennya. Pasalnya, GSK menilai, penawaran itu telah meremehkan bisnis dan prospek masa depannya secara fundamental.
Padahal, jika kesepakatan ini berhasil, maka akan menjadi yang terbesar di dunia sejak awal pandemi. Kesepakatan ini juga dapat mengubah Unilever menjadi pemasok produk kecantikan dan perawatan pribadi yang tangguh, seperti Estee Lauder dan L’Oreal.
Sedangkan bagi GSK, hal ini dapat memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan dari tekanan investor yang semakin tinggi selama setahun terakhir, seperti dilansir dari Reuters.
Pihak GSK mengatakan telah menerima tiga tawaran dari Unilever. Terakhir pada 20 Desember lalu, yang terdiri dari 41,7 miliar poundsterling tunai dan 8,3 miliar poundsterling saham Unilever.
Meski begitu, GSK akan tetap melaksanakan usulan pemisahan bisnis Layanan Kesehatan Konsumen yang ditargetkan rampung pada pertengahan tahun ini. Rencananya, bisnis barang konsumsi GSK akan dilebur menjadi listing terpisah.
Sebelumnya diberitakan bahwa tawaran Unilever untuk bisnis yang dibuat akhir tahun lalu bernilai sekitar 50 miliar poundsterling. Penawaran itu telah ditolak oleh GSK dan Pfizer lantaran dianggap terlalu rendah. GSK dan Pfizer tercatat memiliki saham minoritas di divisi tersebut.
Kinerja unit yang menjual Dove, Lifebuoy, Axe, dan Vaseline, memang kurang memuaskan selama pandemi, lantaran sangat sedikit orang yang keluar atau menghadiri acara-acara sosial, sementara biaya plastik dan petrokimia yang lebih tinggi juga mengurangi margin.
Pada kuartal terakhir tahun lalu, volume produk perawatan kecantikan dan pribadi turun 1,3 persen, sedangkan harga jual naik 3,9 persen. []
Baca juga: Pfizer Prediksi Covid Terus Merajalela Tahun 2022












