Pelopor.id | Jakarta – Rusia kini menduduki posisi ketiga dalam daftar negara di luar Tiongkok daratan yang menggunakan yuan sebagai pembayaran global di tengah sanksi Barat.
Bahkan, mengutip Reuters, Rusia belum masuk daftar bulanan yang diterbitkan oleh perusahaan pengiriman pesan keuangan global SWIFT sebelum invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Namun, angka terbaru yang dirilis pada Kamis (18/08/2022) menunjukkan bahwa hanya Hong Kong dan Inggris yang kini berada di depannya.
Untuk diketahui, SWIFT adalah singkatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication, yaitu jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia.
Data SWIFT menunjukkan, perusahaan dan bank Rusia terlibat dalam hampir 4% pembayaran yuan internasional, berdasarkan nilai pada bulan Juli.
Angka itu meningkat dari 1,42% bulan sebelumnya dan dari nol pada Februari, ketika invasi militer Rusia meluncur ke Ukraina, yang disebut Presiden Vladimir Putin sebagai “operasi militer khusus”, memicu sanksi internasional.
Melompatnya Rusia dalam daftar akan mendukung argumen bahwa sanksi internasional terhadap negara itu berhasil dan memerasnya keluar dari sistem perbankan global berbasis dolar Amerika.
Namun, hal itu juga akan mendukung mereka yang menyebut kondisi itu akan lebih mendekatkan Moskow dan Beijing.
Seiring dengan dampaknya pada sektor keuangan, ratusan perusahaan besar Barat telah menarik atau memotong operasi mereka di Rusia sebagai reaksi terhadap perang.
Data SWIFT terbaru juga menunjukkan bahwa mata uang rubel tidak lagi berada di antara 20 mata uang global teratas yang digunakan di pasar pembayaran internasional.[]












