Pelopor.id | Jakarta – Penjabat presiden Sri Lanka memperbarui keadaan darurat negara itu pada Senin, menjelang pemungutan suara parlemen untuk memilih kepala negara baru, di mana ia menjadi kandidat utama berdasarkan jajak pendapat.
Ranil Wickremesinghe otomatis menjadi penjabat presiden Sri Lanka, ketika Gotabaya Rajapaksa mengundurkan diri pekan lalu setelah melarikan diri.
Gotabaya terpaksa melarikan diri ketika puluhan ribu pengunjuk rasa menyerbu kediaman resminya, setelah demonstrasi terjadi selama berbulan-bulan menuntut pengunduran dirinya akibat krisis ekonomi negara itu.
Mengutip AFP, negara yang berpenduduk 22 juta orang itu mengalami kekurangan bahan pokok yang parah sejak akhir tahun lalu, setelah negara itu kehabisan devisa untuk membiayai impor yang paling vital sekalipun.
Negara itu gagal membayar utang luar negerinya senilai USD 51 miliar pada pertengahan April dan sedang dalam pembicaraan dengan International Monetary Fund (IMF) untuk kemungkinan bailout.
Keadaan darurat memungkinkan pasukan untuk menangkap dan menahan tersangka, dan presiden membuat peraturan yang mengesampingkan undang-undang yang ada untuk menangani kerusuhan apa pun.
Satu sudah ada, namun parlemen belum bertemu untuk meratifikasi deklarasi seperti yang dipersyaratkan, dan Wickremesinghe memperpanjangnya mulai Senin demi kepentingan keamanan publik.
Polisi dan militer telah meningkatkan keamanan menjelang pemungutan suara hari Rabu untuk memilih presiden untuk sisa masa jabatan Rajapaksa, yang berakhir pada November 2024.
Wickremesinghe yang sudah enam kali mantan perdana menteri, didukung untuk posisi itu oleh partai Rajapaksa, yang tetap menjadi penguasa di badan legislatif. []












