Jakarta | Kantor Statistik Nasional Inggris atau Office for National Statistics (ONS) menyebutkan, inflasi tahunan Inggris telah mencapai 9,1%, level tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Hal ini semakin mengikis upah pekerja dan menekan Bank of England untuk terus menaikkan suku bunga.
Inflasi Inggris diatur ke atas 11% sebelum akhir tahun menurut Bank of England, didorong oleh melonjaknya harga energi yang telah meningkatkan prospek resesi global.
“Inflasi Inggris meningkat pada Mei karena kenaikan harga pangan yang terus berlanjut dan rekor harga bensin yang tinggi”, kata kepala ekonom ONS Grant Fitzner seperti dilansir dari AFP.
Menurutnya, hal ini diimbangi oleh kenaikan biaya pakaian kurang dari setahun sebelumnya dan penurunan harga game komputer. Inflasi yang tinggi selama beberapa dekade menyebabkan krisis biaya hidup.
Melonjaknya harga yang kemudian mengikis nilai upah berujung pada aksi mogok pekerja kereta api Inggris pekan ini, dan menjadi aksi mogok terbesar di sektor tersebut dalam lebih dari 30 tahun.
“Peningkatan lebih lanjut dalam inflasi Indeks Harga Konsumen menjadi 9,1% menggarisbawahi tekanan berat yang dialami bisnis dan rumah tangga,” kata kepala penelitian di Kamar Dagang Inggris David Bharier.
Bharier menilai, lonjakan inflasi ini berada di samping prospek ekonomi yang buruk dan kecuali pemerintah bertindak dengan urgensi untuk mendorong bisnis berinvestasi, kemungkinan resesi hanya akan meningkat.
Tak hanya Inggris, negara-negara di seluruh dunia sedang dilanda inflasi yang melonjak akibat perang Rusia-Ukraina dan pelonggaran pembatasan Covid yang memicu kenaikan harga energi dan pangan.
Hal itu memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga, mempertaruhkan prospek resesi karena biaya pinjaman yang lebih tinggi memukul investasi dan konsumen. Bank of England sendiri telah menaikkan suku bunga utamanya sebanyak lima kali sejak Desember.[]












