Jakarta | Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan mengumumkan kebijakan baru yang mengharuskan produsen rokok untuk mengurangi nikotin ke tingkat yang tidak membuat ketagihan.
Nikotin adalah bahan kimia “merasa baik” yang mengaitkan jutaan orang dengan produk tembakau. Ribuan bahan kimia lain yang terkandung dalam tembakau dan asapnya bertanggung jawab atas penyakit seperti kanker, penyakit jantung, stroke, penyakit paru-paru, diabetes dan lainnya.
Keputusan tersebut akan menjadi pukulan kuat bagi industri tembakau AS. Namun jika berhasil, kebijakan tersebut dapat menyelamatkan jutaan nyawa pada akhir abad ini, dan membentuk masa depan di mana rokok tidak lagi bertanggung jawab atas kecanduan dan penyakit yang melemahkan.
Kebijakan ini akan membutuhkan Food and Drug Administration untuk mengembangkan dan kemudian menerbitkan aturan, yang diprediksi akan ditentang oleh industri. Seluruh upaya ini diperkirakan memakan waktu beberapa tahun dan dapat ditunda atau digagalkan oleh proses pengadilan, atau dibatalkan oleh pemerintahan masa depan yang tidak simpatik terhadap tujuannya.
Meskipun merokok kurang lazim di AS daripada Eropa dan telah menurun selama bertahun-tahun, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan rokok masih bertanggung jawab atas 480.000 kematian per tahun di AS.
Mengutip AFP, Presiden AS Joe Biden telah menjadikan “cancer moonshot” sebagai inti dari agendanya dan kebijakan pengurangan nikotin akan sesuai dengan tujuannya, dengan biaya minimal.
Menurut CDC, total biaya ekonomi dari merokok lebih dari USD 300 miliar per tahun, termasuk lebih dari USD 225 miliar dalam perawatan medis langsung untuk orang dewasa, dan lebih dari USD 156 miliar dalam kehilangan produktivitas akibat kematian dini dan paparan asap rokok.[]












