ICCT: Pangkas Emisi Penerbangan untuk Penuhi Target Paris Agreement

- Editor

Kamis, 9 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pesawat di Bandara. (Foto: Tantri Lestari)

Ilustrasi Pesawat di Bandara. (Foto: Tantri Lestari)

Jakarta | Dunia dinilai membutuhkan intervensi pemerintah sejak dini secara agresif dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi penerbangan, jika target suhu Perjanjian Paris atau Paris Agreement ingin dipenuhi.

Laporan Dewan Internasional untuk Transportasi Bersih atau International Council on Clean Transportation (ICCT) pada Kamis (09/06/2022) menyebutkan, maskapai penerbangan harus mulai memangkas emisi sebelum akhir dekade ini, jika memungkinkan, pada tahun 2025.

Perjanjian iklim Paris 2015 memerintahkan negara-negara untuk membatasi pemanasan global “jauh di bawah” dua derajat Celcius, dan 1,5C jika memungkinkan. Suhu rata-rata permukaan bumi telah meningkat 1,2C di atas tingkat pra-industri.

Untuk memproyeksikan emisi sektor penerbangan, ICCT menjalankan tiga model dengan asumsi tingkat lalu lintas yang berbeda, efisiensi bahan bakar dan faktor lainnya.

Model paling optimistis, yang mengasumsikan investasi luas dalam pesawat dan bahan bakar nol-karbon, memuncaknya penggunaan bahan bakar fosil pada 2025 dan meniadakannya pada 2050, akan melihat pengurangan 22,5 miliar ton emisi pada 2050.

Menurut ICCT, hal itu akan memungkinkan industri penerbangan mengurangi emisi gas rumah kaca dengan jumlah yang konsisten dengan pemanasan 1,75C.

“Tapi itu akan membutuhkan kebijakan agresif untuk mencapai puncak emisi paling lambat pada 2030,” lanjut ICCT seperti dikutip dari AFP, Kamis (09/06/2022).

Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau The International Air Transport Association (IATA), yang mewakili 290 maskapai, pada Oktober lalu berjanji untuk mencapai emisi karbon nol bersih pada 2050.

Industri penerbangan adalah salah satu sumber gas rumah kaca yang tumbuh paling cepat, dan salah satu sektor yang paling sulit untuk didekarbonisasi.

Banyak ahli mengandalkan inovasi bahan bakar hidrogen atau yang disebut bahan bakar udara berkelanjutan (sustainable air fuels/SAF) yang terbuat dari sumber terbarukan bahan bakar non-fosil untuk memenuhi target industri. Peningkatan efisiensi operasional juga berpotensi mengurangi polusi karbon di sektor ini.[]

Facebook Comments Box
Baca Juga :   Pengadilan Setujui Restrukturisasi Utang Thai Airways

Berita Terkait

Shakira dan Burna Boy Hidupkan Semangat Global di Mexico City
BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
Temuan Potongan Tikus Picu Penarikan Roti Terkenal di Jepang
Alroji Saku John Jacob Astor Pecahkan Rekor Harga Artefak Titanic
Kecelakaan Kereta Mematikan di India Terkait Kegagalan Sistem Sinyal
Biden Optimis Bisa Sepakat dengan Republik untuk Menaikkan Batas Utang
Ford Pangkas 1.300 Pekerjaan di Inggris
Tesla Babak Belur di Wall Street

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 23:41 WIB

Hadirkan King Nassar, PRSU 2026 Gabungkan Musik, Budaya, dan Identitas Sumatera Utara

Kamis, 16 Juli 2026 - 23:53 WIB

Keyboardis Hengkang, Band Indie Jalesdeva Rilis Pengumuman

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:54 WIB

Porosatas Buka Babak Baru Lewat No Love! (Alternate Version) Bareng Yuke Sampurna

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:44 WIB

Kohi Sekai Hadirkan Semangat Bangkit dan Bertahan di Album Future

Sabtu, 11 Juli 2026 - 20:36 WIB

INDAHKUS Makin Cegil di Single Baru Bertajuk Bentar Lagi Sayang

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:41 WIB

Eks Gitaris ERK, Reza Ryan Perkenalkan Proyek Solo Kantusfirmus Lewat Bintang Magnolia

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:47 WIB

Project Pop Bakal Rayakan 30 Tahun dengan Konser di Tennis Indoor Senayan, Jakarta

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:05 WIB

Unit Skatepunk Man Sinner Lepas Single Kembali, Representasi Aksi Comeback

Berita Terbaru