Jakarta | India telah memberlakukan pembatasan ekspor gula untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, dengan membatasi ekspor musim ini pada 10 juta ton. Pemerintah India mengambil keputusan ini untuk mencegah lonjakan harga domestik setelah pabrik menjual rekor volume di pasar dunia.
Pemerintah juga mengeluarkan perintah kepada eksportir untuk meminta izin pengiriman ke luar negeri antara 1 Juni dan 31 Oktober. Seperti diketahui, India adalah produsen gula terbesar di dunia dan eksportir terbesar kedua, setelah Brasil.
Benchmark harga gula putih di London melonjak lebih dari 1% setelah keputusan India.
“Pemerintah khawatir tentang inflasi pangan, dan itulah sebabnya pemerintah berusaha memastikan bahwa cukup gula tetap di negara itu untuk memenuhi musim festival,” ujar dealer perusahaan perdagangan global yang berbasis di Mumbai, seperti dikutip dari Reuters.
Eksportir juga mengatakan bahwa keputusan mengizinkan pabrik mengekspor 10 juta ton akan membantu India menjual gula dalam jumlah yang cukup besar di pasar dunia.
Awalnya, India berencana membatasi ekspor gula pada 8 juta ton, namun pemerintah kemudian memutuskan untuk mengizinkan pabrik menjual lebih banyak gula di pasar dunia karena perkiraan produksi direvisi ke atas.
Asosiasi Pabrik Gula India atau The Indian Sugar Mills Association yang merupakan badan produsen, merevisi perkiraan produksinya menjadi 35,5 juta ton, naik dari perkiraan sebelumnya 31 juta ton.
Sejauh ini, pabrik-pabrik India telah menandatangani kontrak untuk mengekspor 9,1 juta ton gula pada tahun pemasaran 2021/2022 tanpa subsidi pemerintah. Dari 9 juta ton yang dikontrak, pabrik telah mengirimkan sekitar 8,2 juta ton pemanis.[]












