JPMorgan: Ekonomi AS Masih Solid, Namun Risiko Meningkat

- Editor

Kamis, 14 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CEO JPMorgan Chase & Co. Jamie Dimon (Foto: Pelopor.id/Twitter)

CEO JPMorgan Chase & Co. Jamie Dimon (Foto: Pelopor.id/Twitter)

Jakarta | Bank investasi asal Amerika Serikat (AS), JPMorgan Chase & Co. menyebutkan bahwa ekonomi AS tetap pada pijakan yang kokoh dalam jangka pendek, namun memperingatkan peningkatan risiko jangka panjang akibat inflasi dan perang Rusia-Ukraina.

Menurut JPMorgan, harga konsumen yang lebih tinggi, perang Ukraina dan perubahan kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) secara bersama-sama sedikit meningkatkan risiko resesi, yang menyebabkan bank menyisihkan USD 902 juta dalam cadangan tambahan sebagai penyangga terhadap kemungkinan pinjaman macet.

Chief Executive Officer (CEO) Jamie Dimon mencatat bahwa banyak konsumen yang dibanjiri uang tunai dan sebagian besar bisnis berada dalam kondisi yang baik. Namun dia menunjuk ke kekuatan penyeimbang, termasuk kenaikan suku bunga dan inflasi, dan perang di Ukraina.

“Dan hal-hal itu akan bertabrakan pada satu titik, mungkin sekitar tahun depan,” katanya seperti dikutip dari AFP, Kamis (14/04/2022).

JPMorgan melaporkan laba kuartal pertama USD 8,3 miliar, turun 42% dari periode yang sama tahun lalu. Demikian juga pendapatan turun 5% menjadi USD 30,7 miliar. JPMorgan mencetak pendapatan bunga bersih yang lebih tinggi, mencerminkan dorongan untuk biaya pinjaman karena suku bunga pinjaman yang lebih tinggi.

Dalam hal tren pelanggan, Dimon mengutip kenaikan dalam pengeluaran kartu kredit untuk makan dan perjalanan. Namun, tingkat hipotek yang lebih tinggi telah mengurangi asal pinjaman rumah, sementara ketersediaan kendaraan yang terbatas menghambat asal pinjaman mobil.

Dimon menyoroti situasi Ukraina sebagai wildcard, memperingatkan bahwa perang tidak dapat diprediksi dan pasar minyak bisa berubah secara dramatis. Ia juga memperkirakan volatilitas yang meningkat di seluruh pasar keuangan, mengingat skala aset Fed yang tidak terkendali.[]

Facebook Comments Box
Baca Juga :   Invasi Rusia Membuat Industri Pertanian Ukraina Kehilangan USD 4,3 Miliar

Berita Terkait

Bicara Persatuan di Piala Dunia 2026, Tom Cruise Tuai Kritik Pedas
Shakira dan Burna Boy Hidupkan Semangat Global di Mexico City
Said Didu Ungkap Bahaya Praktik Ekonomi Rakus ‘Serakahnomics’
BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
WhatsApp, Google Maps dan X Bisa Digunakan Tanpa Internet
PGN Salurkan Gas Alam ke Cluster Mandar Bintaro
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tanah yang Dikuasai Perusahaan Skala Besar
BNN Identifikasi dan Musnahkan 2 Ladang Ganja

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 18:39 WIB

Bank Jakarta Terapkan eForm di KCP Kebayoran Park, Permudah Transaksi Nasabah di Kantor Cabang

Senin, 20 Juli 2026 - 17:32 WIB

Bank Jakarta Resmikan New Look Branch KCP Kebayoran Park, Hadirkan Wajah Baru yang Lebih Modern

Rabu, 1 Juli 2026 - 09:31 WIB

Direktur Utama Bank Jakarta: Optimalisasi Keamanan Siber Jadi Fokus Strategi Pengembangan

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:00 WIB

Bank Jakarta dan BEI Kompak Dorong Transformasi dan Kualitas di Tengah Dinamika Ekonomi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 01:17 WIB

Bank Jakarta Raih Tiga Penghargaan pada 23rd Infobank-MRI Banking Customer Experience Appreciation 2026

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:34 WIB

Gandeng BliBli, Bank Jakarta Hadirkan Engagement Store di Jakarta Fair 2026

Sabtu, 6 Juni 2026 - 00:34 WIB

Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:28 WIB

Siswa SMAN 28 Jakarta Antusias Sambut Program KEJAR DKI Jakarta Bersama Bank Jakarta

Berita Terbaru

Momen aktor laga Tom Cruise berpidato di Seremonial Penutupan Piala Dunia 2026. (Foto: Istimewa)

Internasional

Bicara Persatuan di Piala Dunia 2026, Tom Cruise Tuai Kritik Pedas

Senin, 20 Jul 2026 - 17:58 WIB