Pelopor.id | Industri penginapan mulai pulih dan mencetak kinerja positif pada tahun lalu. Salah satunya adalah Marriott International.
Pada kuartal terakhir tahun lalu, Marriott membukukan kenaikan pendapatan lebih dari dua kali lipat, menjadi USD 4,45 miliar. Capaian ini juga melampaui perkiraan Wall Street yang sebesar USD 3,99 miliar.
“Kinerja tersebut dengan dengan pengecualian untuk wilayah Tiongkok, di mana pemulihan terhenti karena kebijakan nol Covid mereka,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Marriot Anthony Capuano yang dikutip dari Reuters.
Tak hanya Marriot International, kinerja Airbnb Inc juga mengalahkan prediksi analis. Pada akhir tahun lalu, Airbnb melaporkan pendapatannya tumbuh 78% menjadi USD 1,53 miliar. Sedangkan ramalan analis berkisar USD 1,46 miliar.
Perusahaan asal San Francisco ini juga berhasil meraih laba bersih sebesar USD 55 juta, berbanding terbalik dengan tahun 2020 yang merugi hingga USD 3,9 miliar.
Kinerja Airbnb salah satunya didorong oleh banyaknya orang yang semakin fleksibel dengan bisa bekerja dari jarak jauh.
“Orang-orang tidak terlalu terikat dengan kantor, jadi mereka sekarang bisa tinggal di mana saja,” ujar CEO Airbnb Brian Chesky.
Perusahaan riset persewaan liburan AirDNA mencatat, pada Januari 2022 ada sekitar 58.000 persewaan jangka pendek baru di Amerika Serikat (AS). Angka ini terbilang paling banyak sejak awal pandemi dan terus bertambah setiap hari.
“2021 adalah tahun pemulihan, dan 2022 akan melewati Covid dan menjadi tahun pertumbuhan yang kuat untuk sektor ini,” kata Wakil Presiden AirDNA Jamie Lane.[]












