Pelopor.id | Pemerintah Korea Selatan memutuskan menghentikan program tes dan tracing Covid-19 besar-besaran setelah ledakan kasus varian Omicron belakangan ini. Keputusan itu diambil akibat keterbatasan sumber daya dan memakan biaya sosial dan ekonomi yang terlalu tinggi.
Keputusan itu diungkapkan oleh Pejabat Senior Kesehatan Korsel Sohn Young-rae, seperti dilansir dari AFP.
Kini, Pemerintah Korsel mengubah arah kebijakan pencegahan Covid-19 dengan fokus ke kelompok yang paling rentan. Adapun tes diutamakan bagi kelompok lanjut usia (lansia), kemudian diagnosis dan perawatan diutamakan untuk kelompok berisiko tinggi.
Sebelumnya, warga Korsel yang dites dan hasilnya positif harus karantina di fasilitas yang disediakan pemerintah. Namun kini, pasien tanpa gejala diminta untuk isolasi mandiri (isoman) di rumah.
Setelah kemunculan varian Omicron, Korsel tercatat memecahkan rekor dengan 49.567 kasus Covid pada Selasa (08/02/2022), naik dua kali lipat dalam waktu kurang dari sepekan.
Pejabat Kesehatan Korsel memprediksi, kasus harian di negaranya bisa mencapai 170 ribu kasus pada akhir bulan ini akibat varian Omicron.
Varian Omicron memang disebut-sebut lebih cepat menular. Namun, gejala yang ditimbulkan rata-rata lebih ringan dibanding varian-varian sebelumnya.
Sebelum aturan baru ini diterapkan, Korsel dipuji lantaran terus melakukan tes dan tracing kasus Covid-19 dengan ketat, sehingga penyebaran tak terlalu luas.
Selama pandemi, total kasus Covid di Korsel mencapai 1,13 juta, dengan angka kasus kematian mencapai 6.943. []












