Pelopor.id | Broker saham online, Robinhood Markets Inc mengalami kerugian bersih sebesar USD 423 juta pada kuartal yang berakhir 31 Desember 2021. Hal ini berbanding terbalik dengan sebelum IPO pada tahun lalu, di mana perusahaan tersebut berhasil mencetak laba bersih senilai USD 7 juta.
Pada periode yang sama, Robinhood Markets membukukan pendapatan berbasis transaksi dari cryptocurrency sebesar USD 48 juta, atau tumbuh 304% secara year-on-year (yoy). Sedangkan pendapatan dari perdagangan ekuitas turun 35% menjadi USD 52 juta.
Setelah pemaparan hasil kinerja, saham Robinhood juga ikut anjlok 15% menjadi USD 9,98, seperti dikutip dari Reuters.
Adapun rugi bersih itu salah satunya dipicu oleh biaya operasional yang meningkat hingga 162% selama kuartal empat tahun lalu.
Chief Financial Officer (CFO) Robinhood Jason Warnick menilai, sebagian besar kenaikan biaya itu disebabkan oleh kompensasi berbasis saham dan peningkatan jumlah karyawan.
Warnick pun memprediksi, tahun ini atau tahun depan perusahaannya mungkin bisa meraih untung, tergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan dan peluncuran produk baru.
Untuk kuartal pertama tahun ini, Robinhood Markets memperkirakan total pendapatan bersih akan turun 35% secara yoy, menjadi sekitar USD 340 juta.[]












