Pelopor.id – Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi berpendapat bahwa pemulihan sektor pariwisata Bali yang porak poranda akibat pandemi Covid-19 tergantung kekuatan pemimpinnya, dalam hal ini Gubernur Bali, I Wayan Koster.
“Kepemimpinan Bapak Wayan Koster diuji disini, bagaimana bisa memastikan sinergisitas semua stakeholder pariwisata sama persepsinya, perjuangan agar tidak terkotak-kotak,” tutur Taufan dalam seminar “Tiga (3) Tahun Koster-ACE yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 19 Oktober 2021.
“Thailand, November Tanggal 1 nanti tidak ada karantina, Maldives sudah mendahului tidak ada karantina.”
Menurutnya, dalam hal ini masterplan pariwisata Bali harus bisa dicanangkan dimana salah satu elemen yang paling penting adalah berbicara tentang bagaimana mengatasi Bali di tengah pandemi ini.
“Kita sama-sama tau kalau pemimpin tidak kuat ini akan berdampak pada kebijakan-kebijakan yang lain,” sebut Taufan.
Penulis buku Protokol Destinasi ini menegaskan, bahwa pemimpin daerah adalah pihak yang paling mengetahui tentang kondisi sektor pariwisata di wilayahnya. Selain itu, pelaku industri di daerah juga tahu bagaimana cara paling cepat untuk bisa memulihkan Bali sehingga apa yang telah dilakukan Pemprov Bali patut diapresiasi.

“Pak Gubernur Bali sempat mengatakan bahwa pariwisata di Bali itu hanya dinikmati oleh para investor saja. Saya pikir ini sesuatu yang harus diklarifikasi dalam artian pariwisata di Bali pastilah berdampak juga kepada masyarakat Bali, pasti itu,” tegas TR panggilan akrabnya.
Sementara soal ada atau tidaknya kehadiran investor adalah bagian dari impact pariwisata.
“Jadi kalau bicara “tourism investment will follow” itu penting, pasti berdampak multiple effect pada masyarakat lokal disana,” ucap TR.
Sedangkan yang perlu dibenahi di Bali menurut ahli strategi Pariwisata nasional ini adalah fokus pada kebijakan-kebijakan yang ada.

“Sekarang bagaimana kita sama-sama memperjuangkan, agar karantina yang 5 hari bisa tidak perlu ada karantina. Mari kita suarakan sama-sama artinya apa bahwa sekarang sudah waktunya kita hidup berdampingan dengan covid-19,” kata Taufan.
Selain itu lanjut Taufan, hidup berdampingan dengan covid-19 merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo dan rekomendasi dari WHO.
“Ingat, berbicara tentang kebijakan pariwisata benchmarknya harus jelas yakni WHO, UNWTO,” tandasnya.
- Baca juga : Pariwisata Tidak Diunggulkan Lagi di Bali, Pengamat: Jangan Sampai Mencerminkan Keputusasaan Gubernur Bali Hadapi Pandemi
- Baca juga : Taufan Rahmadi: Terpilih Wakili Indonesia di Ajang Best Tourism Village UNWTO Kemenangan Bagi Tetebatu
Terkait hal ini, menurutnya Taufan, Gubernur Bali harus berani meyakinkan masyarakat Bali dan pelaku industri bahwa tidak perlu ada karantina lagi lantaran sudah ada vaksin, juga ada tes PCR.
“Jadi proses wisatawan datang ke Bali itu sudah capek dengan filterisasi, jangan dibikin susah lagi,” sebutnya.
Taufan menerangkan, dengan hidup side by side dengan covid-19 ekonomi akan berjalan dan protokol kesehatan juga tetap dilaksanakan. Oleh sebab itu, ia berharap karantina untuk wisatawan asing bisa diturunkan dari 5 hari menjadi nol karantina. Pasalnya di negara-negara tetangga sudah menerapkan nol karantina.
“Thailand, November Tanggal 1 nanti tidak ada karantina, Maldives sudah mendahului tidak ada karantina,” ungkapnya. []












