Pameran Seni Rupa Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum

- Editor

Sabtu, 28 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo pada 28 Agustus 2021-28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo pada 28 Agustus 2021-28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

Pelopor.id | Jakarta – Tumurun Private Museum bekerja sama dengan S.Sudjojono Center menyelenggarakan pameran seni rupa mahakarya S.Sudjojono, dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan ke-76 RI, yang berjudul Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S.Sudjojono, yang akan berlangsung dari 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022, berlokasi di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang membuka pameran ini dan dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid. Pameran ini dikuratori oleh Santy Saptari.

Pameran ini menampilkan salah satu reproduksi mahakarya S. Sudjojono yaitu, lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” (1973), koleksi Museum Sejarah Jakarta, dan juga 38 (tiga puluh delapan) sketsa yang dibuat Sudjojono dalam mempersiapkan pembuatan lukisan tersebut, yang merupakan koleksi Tumurun Private Museum. Ini pertama kalinya seluruh  sketsa tersebut dipamerkan secara lengkap di Indonesia.

Sejarah lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” ini cukup istimewa. Lukisan ini dipesan khusus oleh Ali Sadikin yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta kepada Sudjojono dalam rangka peresmian Museum Sejarah Jakarta pada tahun 1974.

Tumurun Private Museum

Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

Sudjojono melakukan riset selama tiga bulan di Belanda untuk mendapatkan data-data historis yang akurat mengenai sejarah peristiwa tersebut, dan menuangkan hasil risetnya tersebut ke dalam sketsa-sketsa yang dibuatnya. Sketsa-sketsa tersebut disertai  catatan-catatan Sudjojono secara mendetil mengenai berbagai hal sehubungan dengan peristiwa bersejarah tersebut.

Sudjojono juga harus membangun studio khusus untuk dapat menampung lukisan berukuran 3×10 Meter dan merampungkan lukisan ini selama 7 (tujuh) bulan. Dari segi keunikan tema yang historis realistis, kesulitan teknis dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan menyelesaikan lukisan ini, tidak bisa dipungkiri pentingnya nilai dari lukisan ini.

Pameran ini serta berbagai kajian di dalamnya sekaligus merupakan salah satu upaya S.Sudjojono Center beserta keluarga Rose Pandanwangi Sudjojono serta Tumurun Private Museum dalam mendukung usaha Museum Sejarah Jakarta yang dipelopori oleh Sri Kusumawati, S.S., M.Si. dan Esti Utami, S.S. dalam mengupayakan agar lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” dan sketsa-sketsanya dapat terdaftar menjadi Cagar Budaya Nasional.

Sudjojono (1913-1986) sendiri bukanlah sosok yang asing lagi dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Seniman handal dan pemikir ulung, yang melalui karya-karya dan pemikirannya membantu membentuk seni rupa yang beridentitas Indonesia.

Baca Juga :   Hak Hidup Pohon atau Hutan?
Tumurun Private Museum
Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

Penyelenggaraan pameran ini merupakan salah satu wujud tujuan utama Tumurun Private Museum dalam menjalankan visi dan misi dalam bidang edukasi kepada masyarakat secara luas terutama mengenai seni, baik seni klasik maupun kontemporer. Dengan diselenggarakannya pameran ini diharapkan agar para seniman, pencinta seni, pelajar dan masyarakat umum dapat lebih mengenal  sosok Sudjojono, karya-karya dan pemikirannya, riset yang dilakukan dan proses pembuatan  karya tersebut.

Melalui pameran ini, Tumurun Private Museum dan S.Sudjojono Center sangat mengharapkan  masyarakat dapat belajar lebih dekat mengenai sosok pejuang Sultan Agung dan  seorang pemimpin Mataram, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Kedua sosok penting yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia dan sejarah seni rupa Indonesia. Mereka memiliki karakter yang sama, yaitu visioner, pemberani dan cinta tanah air. Keduanya pun pejuang, walau perjuangan mereka dilakukan dalam bentuk yang berbeda, Sultan Agung melalui ekspansi untuk perjuangan kemerdekaan serta upaya perbaikan hidup masyarakatnya, sedangkan Sudjojono melalui kuas, karya-karya dan tulisan-tulisannya. Diharapkan pameran ini dapat memberikan inspirasi akan makna dan peran seni, perjuangan dan nasionalisme bangsa dan negara.

Pameran ini juga diharapkan dapat menjadi momentum untuk membawa semua lapisan masyarakat mengenal seni dengan memberikan edukasi tentang siapa Sudjojono dan seberapa besar kontribusinya di dunia seni lukis modern di Indonesia lewat Lukisan Sultan Agung, selain juga dapat menjadi sebuah ajang untuk mengenal kota Solo lebih jauh melalui sejarah perjuangan Sultan Agung.

Kasunanan Surakarta merupakan salah satu dari empat pecahan kerajaan Kesultanan Mataram, yang masih ada hingga hari ini, karenanya acara ini dapat dihayati  sebagai “Kembalinya Sultan Agung ke Solo”. Pameran ini diharapkan dapat menarik generasi yang lebih muda, milenial dan Gen Z  untuk memahami dan menerima serta menghargai nilai-nilai pejuangan dan seni dan kemudian mengilhami  pemikiran dan gaya masa kini mereka.[]

Tumurun Private Museum
Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

Baca juga: Bertemu Masyarakat Gili Trawangan Bersama Bang Zul, Gubernur NTB yang Sederhana

Baca juga: Sejarah Idul Adha, Kisah Nabi Ibrahim Mendapat Wahyu dari Allah SWT

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Sambut Idul fitri, Jusuf Hamka Bagikan 300 Pasang Sepatu Pakalolo Secara Gratis
Sejarah Gedung Lawang Sewu, Kisah Mistis, dan Peristiwa Pertempuran Lima Hari
Syndicate Forum: Tuan Rondahaim Saragih, Sang Mutiara dari Tanah Simalungun
Seru! Raisya Cookies Bikin Kegiatan Masak Bareng Chef Chiellyn Ashley
INIAJAITU Gebrak Dunia Musik Lewat Single Berita Palsu
Ikatan Alumni Stikosa-AWS Gelar Bedah Buku “Ryan, Transformasi Sang Jagal Jombang”
Kisah Desa Paciran yang Dijuluki Kampung Rajungan
Peluncuran Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono, Kumpulan 38 Sketsa Sejarah

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 22:50 WIB

Peggy Gou hingga The Adams Masuk Line Up Resmi We The Fest 2024

Kamis, 18 April 2024 - 21:46 WIB

BermusikGitar Gagas Kompetisi Gitar Bertajuk Strings of Glory 2024

Kamis, 4 April 2024 - 19:17 WIB

Politikus Boy Warongan Rilis Single Juang Angan Ciptaan Ade Paloh

Jumat, 29 Maret 2024 - 01:47 WIB

Smash hingga Agnez Mo Bakal Tampil di SOORA Music Festival 2024

Selasa, 19 Maret 2024 - 22:09 WIB

Vokalis Grup Band SORE, Ade Paloh Meninggal Dunia

Jumat, 15 Maret 2024 - 13:22 WIB

Promotor Color Asia Live Boyong Alan Walker Konser di Indonesia

Kamis, 14 Maret 2024 - 04:11 WIB

Terinspirasi Pengalaman Nonton Festival Musik, Vania Abby Lepas Single LouD!

Kamis, 14 Maret 2024 - 01:38 WIB

Gandeng Mustafa DEBU, Indomusik Team Rilis Single Religi Bertajuk IMA

Berita Terbaru