Pelopor.id – Dinas Pariwisata NTB, menyelenggarakan pelatihan yang bertajuk “Mitigasi Bencana” di desa wisata Senaru yang terletak di Kabupaten Lombok Utara. Acara ini akan digelar selama 2 hari mulai tanggal 22-23 Oktober 2021.
Kabid Destinasi Pariwisata, H. Ahlul Wakti mengatakan, terpilihnya Senaru sebagai lokasi pelatihan mitigasi bencana lantaran desa wisata tersebut merupakan salah satu pintu pendakian Rinjani yang dikunjungi banyak pendaki.
Ia berharap, dengan adanya pelatihan mitigasi bencana ini, maka desa-desa wisata memiliki kemampuan mitigasi dan adaptasi bencana. Pelatihan ini, juga untuk mempersiapkan NTB dalam menyambut event-event internasional dari sisi mitigasi bencana.
“Kerjasama pentahelix menjadi modal utama keberhasilan sebuah desa wisata. Harus dihindari konflik antar pelaku maupun pengelola desa wisata jangan sampai terjadi karena ini menghambat kemajuan.”
Pada hari pertama pelatihan ini, Yudhit Adiyatma selaku perwakilan BMKG menyampaikan beberapa hal seperti manajemen resiko dan bencana, info khusus pariwisata, serta info sebaran titik panas. Nantinya informasi harian maupun mingguan terkait informasi cuaca, suhu, curah hujan, dan sebagainya akan diperbarui setiap senin dan kamis melalui grup WhatsApp oleh BMKG.
Dalam kesempatan yang sama, Kabid Destinasi Dispar NTB yang juga bertindak selaku moderator, berharap BMKG bisa memberikan informasi untuk diletakkan di Tourist Information Center nantinya termasuk di pintu-pintu pendakian.
“Sehingga nanti ketika wisatawan hendak melakukan pendakian dan travelling destinasi-destinasi wisata, bisa merasa aman dan nyaman,” sebutnya.
Selanjutnya, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) yang diwakili oleh Kabid Penanggulangan Bencana BPBD NTB, Mustakim menyampaikan materi terkait Regulasi dan Tantangan dalam Melaksanakan Mitigasi Bencana dan Pengelolaan Krisis Kepariwisataan Akibat Bencana.
Menyadari bahwa NTB rawan bencana seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami, Kabid Penanggulangan Bencana BPBD NTB ini menekankan upaya antisipasi dengan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan dasar kebencanaan penting.

Berkaca pada bagaimana Jepang dalam menanggapi bencana, dalam pemaparannya, Mustakim menyampaikan bahwa kita bisa menunjukkan upaya serupa, misalnya dengan memiliki bangunan tahan gempa.
Mustakim menilai bahwa pariwisata sangat membutuhkan informasi seperti ini untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan. Oleh sebab itu, Mustakim percaya dengan narasi Desa Tangguh Bencana, desa akan memiliki nilai lebih.
“Bagaimana menjadikan desa tangguh bencana, hal ini yang (kemudian) dapat dijual,” tandasnya.
Selanjutnya, Mustakim menegaskan akan pentingnya kesadaran akan ancaman bencana dan tentu cara untuk mencegahnya. Sesi kedua ini ditutup dengan diskusi bersama peserta yang hadir.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata prov NTB, Yusron Hadi yang juga hadir di lokasi pelatihan menegaskan bahwa pelatihan ini urgent dilakukan untuk meningkatkan pemahaman, kemampuan dan keahlian pengelola desa wisata untuk mitigasi dan adaptasi bencana di desa wisata masing-masing.
Menurutnya, Desa-desa wisata hendaknya memiliki SOP penanggulangan maupun penanganan bencana maupun menetapkan jalur-jalur evakuasi serta meeting point.
- Baca juga : Festival Dara Ngindang Tanda Bangkitnya sektor Pariwisata
- Baca juga : Andy Wibowo Finish Pertama HK Endurance Challenge 2021
Dalam sesi dialog, Kadispar Yusron mengemukakan berbagai hal mulai dari konsep pengembangan desa wisata, upaya penguatan kelembagaan pengelola, dukungan saran prasarana dan sebagainya.
“Semua kebutuhan itu harus dipenuhi bersama-sama oleh semua pihak. Kerjasama pentahelix menjadi modal utama keberhasilan sebuah desa wisata. Harus dihindari konflik antar pelaku maupun pengelola desa wisata jangan sampai terjadi karena ini menghambat kemajuan,” tandasnya.
Adapun besok pelatihan akan dilanjutkan dimana pada sesi akhir akan dilaksanakan praktik lapangan di lokasi destinasi wisata setempat. []












