Pelopor.id | Partai Pelopor resmi berganti nama menjadi Partai Pergerakan Kebangkitan Desa (Partai Perkasa). Pergantian nama Partai itu, diputuskan dalam Kongres Partai yang digelar di Hotel Acacia, Jakarta Pusat pada Sabtu, 9 Oktober 2021.
“Labeling cebong, kampret dan kadrun jelas telah merusak tatanan politik nasional akibat idiom nasionalisme dan relijius.”
Partai Pelopor sendiri sebelumnya didirikan oleh putri Presiden pertama RI Soekarno, yakni Rachmawati Soekarnoputri pada Agustus 2002. Kini partai tersebut dipimpin Eko Suryo Santjojo dan Ristiyanto sebagai Sekretaris Jenderal.
“Pergantian nama Partai Pelopor ke Partai Perkasa merupakan keputusan kongres selajutnya tentu sesuai agenda akan ada perubahan AD/ART serta pemilihan pengurus Partai Perkasa,” tutur Ristiyanto yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Kongres.
Ia menjelaskan, bahwa kongres 2021 ini merupakan kongres terakir Partai Pelopor, sebelum partai tersebut selanjutnya menggelar kongres pertama setelah berganti nama menjadi Partai Perkasa. Kongres akan digelar guna mempersiapkan Pemilu 2024.
“Setelah berganti nama dari partai Pelopor ke Partai Perkasa tentunya agenda kami selanjutnya yakni mengadakan kongres pertama Partai Perkasa menjelang pemilu 2024,”ungkapnya.
Baca juga :
Profil Hamdan Zoelva, Kuasa Hukum Partai Demokrat Kepemimpinan AHY
Profil Yusril Ihza Mahendra, Kuasa Hukum Kubu Moeldoko
Ristiyanto menegaskan, pihaknya ingin Partai Pelopor tidak lagi bicara sebagai partai nasionalis, namun harus memiliki ceruk lebih luas dan segmentasi yang lebih jelas. Ia ingin partainya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, dan tidak terjebak dalam dikotomi SARA yang berpotensi mendegradasi situasi politik nasional.
“Labeling cebong, kampret dan kadrun jelas telah merusak tatanan politik nasional akibat idiom nasionalisme dan relijius. ini merupakan prodak industri demokrasi yang menciptakan buzzer-buzzer bayaran yang prilakunya jauh dari nilai-nilai Pancasila,” tandasnya. []












