Jakarta – Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi meminta masyarakat untuk mendukung Desa Wisata Tetebatu di ajang “Best Tourism Village 2021” yang diselenggarakan UNWTO. Lomba Desa Wisata berkelas Internasional ini, memberikan kebanggaan tersendiri untuk bangsa Indonesia sekaligus sebagai salah satu upaya mempromosikan pariwisata Indonesia di tingkat global.
Desa Wisata Tetebatu yang terletak di Sikur, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat istimewa karena berhasil lolos mewakili Indonesia di ajang The Best Village UNWTO 2021 bersama 2 desa wisata lainnya yakni Nglanggeran di Yogyakarta dan Wae Rebo di NTT.
Tetebatu pun, siap beradu keindahan dengan negara-negara di dunia yang juga memiliki desa wisata andalannya masing-masing. Saingan Tetebatu tidak main-main dan sudah terkenal secara global antara lain, Murcia (Cehegin) dari Spanyol. Lalu Alonissos, Western Samos, dan Soufli yang mewakili Yunani.

Kemudian ada desa wisata Ladhpura Khas, Kongthong Meghalaya, dan Pochampally Telangana yang mewakili India, serta desa-desa wisata dari Asia Tenggara seperti dari Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Kamboja dan masih banyak lagi.
Perjuangan untuk lolos seleksi UNWTO tidaklah mudah, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sesuai kriteria mereka. Belum lagi di dalam negeri Tetebatu harus bersaing dengan 6 ribu desa wisata dari total sekitar 75 ribu desa yang ada di seluruh Indonesia.
Mengenal Desa Wisata Tetebatu
Desa Tetebatu bisa disebut desa wisata legendaris Indonesia yang sudah dikenal sejak zaman Belanda atau sebelum berdirinya Republik Indonesia. Lokasi Tetebatu ada dibawah gunung Rinjani dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu sekitar 90 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Sejarah terbentuknya desa Tetebatu tidak terlepas dari peran Raden Soedjono, seorang dokter pertama ahli malaria, lepra, dan kusta yang ditugaskan di Kabupaten Lombok Timur sekitar 1925 – 1930 silam.

Kala itu, dokter Soedjono menjadikannya sebagai tempat beristirahat di akhir pekan, untuk mencari ketenangan dan kesejukan. Kabar tempat beristirahat dokter Soedjono didengar oleh orang-orang Eropa di Mataram yang kemudian turut menggunakannya sebagai tempat beristirahat. Setelah meninggal, pada 1944, Wisma Sudjono ditempati oleh istrinya, Raden Ayu Rumite.
Daya Tarik Tetebatu
Wisata alam menjadi magnet pemikat bagi para traveller lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi kawasan di lembah gunung Rinjani ini. Dari Tetebatu wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Sangkareang dan Gunung Rinjani yang gagah.
Selain indahnya hamparan sawah terasering, yang paling menggoda dari desa ini adalah dua air terjunnya, yakni air terjun Sarang Walet atau Bat Cave dan air terjun Kokok Duren. Kemudian wisatawan juga bisa mengunjungi “Hutan Monyet”, disini kita bisa melihat monyet hitam yang memang satwa asli Tetebatu.
Bagi yang hobi blusukan, Tetebatu juga punya tempat jalan-jalan yang menyehatkan jiwa dan raga yakni di kebun kopi, coklat, vanili dan cengkeh milik masyarakat. Bahkan para turis pun bisa ikut menanam bibitnya, jika musim tanam sedang berlangsung.
- Baca juga : Sapta Nirwandar Sarankan Menparekraf Bikin Pers Conference untuk Promosikan Tetebatu
- Baca juga : Sandiaga Uno Setuju Adakan Konferensi Pers untuk Promosikan Tetebatu
Dengan mengunjungi Tetebatu, kita juga bisa berwisata religi dengan melihat peninggalan bersejarah berupa Alquran kuno berusia 200 tahun. Alquran yang konon terbuat dari bahan kayu dan kulit onta ini disebut merupakan asli tulisan tangan.
Alquran kuno ini, disimpan di sebuah rumah yang disebut bale kemaliq di Dusun Tete Batu Lingsar, Kecamatan Sikur. Alquran ini, kini diwariskan kepada Jinarim alias Sukirman yang mengaku mendapatkan benda bersejarah itu dari kakeknya secara turun temurun.
Dukungan segenap masyarakat sangat dibutuhkan oleh Tetebatu dalam kompetisi UNWTO ini. Selain untuk menumbuhkan rasa kebanggaan, juga sebagai pendorong perekonomian warga sekitar dan juga sebagai upaya memulihkan sektor pariwisata yang mati suri akibat terdampak pandemi covid-19. []












