Jakarta | Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berangkat ke Korea Selatan dan Jepang pada Kamis (19/05/2022) untuk memperkuat kepemimpinan AS di Asia. Perjalanan Biden dibayangi oleh kekhawatiran uji coba nuklir Korea Utara dan juga saat perhatian Gedung Putih telah tertuju ke Rusia dan Eropa.
Kunjungan Biden ini disebut-sebut sebagai bukti bahwa AS sedang membangun sejumlah langkah baru-baru ini untuk memperkuat porosnya selama bertahun-tahun ke Asia, di mana kekuatan komersial dan militer Tiongkok yang meningkat telah melemahkan dominasi AS selama beberapa dekade.
Sebelum Biden terbang ke Seoul, Biden bertemu dengan para pemimpin Finlandia dan Swedia di Gedung Putih, untuk merayakan aplikasi mereka bergabung dengan NATO, seperti dikutip dari AFP.
Gedung Putih mengatakan, selama putaran pertama, Biden akan mengunjungi pasukan AS dan Korea Selatan, namun tidak akan melakukan perjalanan kepresidenan tradisional ke perbatasan berbenteng yang dikenal sebagai DMZ antara Korea Selatan dan Korea Utara.
Setelah Korea Selatan, Biden ke Jepang pada hari Minggu untuk mengadakan pertemuan puncak dengan para pemimpin kedua negara, serta bergabung dengan pertemuan puncak regional Quad, pengelompokan Australia, India, Jepang dan AS.
Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan menegaskan tidak ada ketegangan antara masalah Eropa dan Asia, bahkan ia menyebutnya saling memperkuat.
“Ada sesuatu yang cukup menggugah dari pertemuan dengan presiden Finlandia dan perdana menteri Swedia untuk memperkuat momentum di balik aliansi NATO dan tanggapan dunia bebas terhadap Ukraina, kemudian naik pesawat dan terbang ke Indo-Pasifik,” ucap Sullivan.[]












