Pelopor.id – Louis Vuitton, Merek fashion teratas di kerajaan LVMH, memutuskan untuk menaikkan harga produknya lantaran terjadi peningkatan biaya produksi dan inflasi global. Keputusan ini, akan memengaruhi biaya barang-barang kulit, aksesori, dan wewangian Louis Vuitton di seluruh dunia.
“Penyesuaian harga memperhitungkan perubahan biaya produksi, bahan baku, transportasi serta inflasi,” tutur Louis Vuitton dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, merek mewah terbesar di dunia yang bergabung dengan rumah mode terkemuka termasuk Herms dan Chanel, telah menaikkan harga sejak awal pandemi untuk melindungi margin dari inflasi.
Kebijakan ini, terpaksa diambil lantaran virus corona memaksa perusahaan untuk menghentikan sebagian besar produksi tahun ini dan memicu penundaan di seluruh dunia. Sehingga berdampak pada gangguan yang terus merusak sistem rantai pasokan dalam skala global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara konsumen terjebak di rumah, mengumpulkan tabungan. Pengeluaran bebas yang biasanya mereka gunakan untuk perjalanan atau layanan akhirnya disalurkan ke barang-barang mewah, terutama barang-barang investasi jangka panjang seperti tas kulit Louis Vuitton yang dapat dikoleksi.
Sejumlah blogger asal Tiongkok menyebutkan, harga beberapa model tas tangan seperti Capucines dan Neverfull akan naik 20 persen atau lebih. Saat ini, Capucines sendiri dibanderol dengan harga sekitar 105 juta rupiah dan Neverfull sekitar 27 juta rupiah.
- Intel Caplok Perusahaan Chip Asal Israel Tower Semiconductor
- Warren Buffett Beli Saham Produsen Game Candy Crush US$ 1 miliar
Sedangkan situs web yang melacak pasar barang mewah, PurseBop memperkirakan kenakan harga mulai dari 4 persen hingga berkisar 15 sampai 18 persen pada batas atasnya.
Berita tentang kenaikan harga produk Louis Vuitton membuat harga saham LVMH naik 3,58% pada hari Selasa (15/2/2022), mencapai titik tertinggi di akhir penutupan $694 per saham. []












