Pelopor.id | Pemerintah Thailand mendorong warga untuk mengonsumsi daging buaya sebagai alternatif pengganti daging babi.
Menurut Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Thailand Suwannachai Wattanayingcharoenchai, daging buaya kaya akan protein. Bahkan, ia menyarankan membeli ekor reptil lantaran dianggap bagian yang terbaik, dilansir Bangkok Post.
Direktur Departemen Biro Nutrisi Sapin Chotevichien menyebutkan, 100 gram daging buaya mengandung 99 kalori, 2.9 gram lemak dan 21.5 gram protein.
Namun untuk menghindari kontaminasi bakteri, daging buaya harus dimasak dengan benar. Pasalnya, buaya mungkin mengandung bakteri seperti salmonella, yang bisa menyebabkan kelainan sistem pencernaan.
Suwannachai menegaskan, sebelum memasak daging buaya, orang harus mencuci tangan dan peralatan secara rutin. Selain itu, konsumen juga tidak boleh makan daging buaya setengah matang.
Sebelum dibekukan, daging harus dicuci. Kemudian harus ditutup dengan kertas perkamen dilapisi minyak sayur untuk memperpanjang masa konsumsi.
Daging buaya bisa bertahan 10-12 bulan di suhu -24 derajat hingga -18 derajat celcius. Jika Anda ingin menyimpannya selama dua sampai empat bulan, bisa dengan suhu -12 derajat hingga -8 derajat celcius. Sedangkan untuk rentang waktu 24 jam, bisa disimpan dengan suhu 0-5 derajat celsius.
Sebelumnya ramai pemberitaan bahwa para peternak buaya di Thailand mulai kewalahan memenuhi permintaan daging buaya. Hal itu terjadi setelah harga daging babi melonjak drastis, akibat banyak babi bermatian karena terserang flu di Thailand.
Pemerintah Thailand pun mulai melakukan antisipasi untuk menghadapi kenaikan daging jelang tahun baru Imlek, seperti dikutip dari Nation Thailand. []
Baca juga: Thailand Kembali Bebaskan Karantina bagi Turis yang Sudah Divaksin Covid-19












