“Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendapat rekomendasi dari 68 ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air Boeing JT610 untuk mengelola dana CSR sebesar Rp138 miliar.”
Pelopor.id | Jakarta – Polri, menyebut Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dapat mengumpulkan uang donasi sebesar Rp60 Miliar dalam satu bulan. Dari jumlah tersebut, ACT diduga melakukan pemotongan sebesar 10 hingga 20 persen.
“Donasi-donasi tersebut terkumpul sebanyak sekitar Rp60 miliar setiap bulannya dan langsung dipangkas sebesar 10- 20 persen,” tutur Karo penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan kepada wartawan, dikutip Minggu, (09/07/2022).
Ramadhan mengungkapkan, pemotongan donasi sebesar 10 hingga 20 persen itu dilakukan untuk membayar gaji para pengurus ACT dan seluruh karyawan.
“Untuk keperluan pembayaran gaji pengurus, dan seluruh karyawan sedangkan pembina dan pengawas juga mendapatkan dana operasional yang bersumber dari potongan donasi tersebut,” tegasnya.
Menurut Ramadhan, pengumpulan dana atau donasi tersebut diperoleh ACT dari masyarakat umum, kemitraan dengan perusahaan nasional maupun internasional.

“Donasi masyarakat, donasi Kemitraan Perusahaan Nasional dan Internasional, Donasi Institusi/Kelembagaan Non Korporasi dalam Negeri maupun Internasional, Donasi dari Komunitas dan Donasi dari anggota lembaga,” tegasnya.
Bareskrim Polri, sebelumnya menyelidiki dugaan adanya penyalahgunaan dana bantuan korban kecelakaan pesawat Lion Air oleh yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Dana yang dimaksud, adalah dari korban kecelakaan pesawat Lion Air Boeing JT610 yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 2018 lalu dengan total dana Rp138 miliar.
“Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendapat rekomendasi dari 68 ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air Boeing JT610 untuk mengelola dana CSR sebesar Rp138 miliar,” tandas Ramadhan.
Sementara mantan Presiden ACT, Ahyudin dengan tegas membantah penyimpangan dana kerja sama ACT dengan Boeing.
“Insya Allah, saya pastikan tak ada penyimpangan dana kerja sama ACT dengan Boeing. Tenggat waktu kerjasama implementasi program kalau tidak salah masih sampai akhir Juli 2022, bahkan masih sangat mungkin bisa dinegosiasikan untuk perpanjangan waktu,” ucapnya, Sabtu (09/07/2022).
Menurut Ahyudin, hingga terakhir tugasnya di ACT pada Januari 2022 lalu, realisasi program kerja sama dengan Boeing sudah mencapai lebih dari 70 persen. Sehingga sisanya sekitar 30 persen sejatinya bisa selesai dalam waktu 6 bulan di bawah kepemimpinan baru ACT saat ini.[]












