Jakarta | Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu (22/06/2022) mendesak kekuatan politik Prancis untuk membuat kompromi, guna mengakhiri kebuntuan politik yang dipicu oleh kegagalannya mempertahankan mayoritas parlemen yang mengancam akan melumpuhkan pemerintah.
Aliansi sentris Macron menyelesaikan pemilihan parlemen hari Minggu, dengan selisih 44 kursi dari mayoritas di Majelis Nasional, ketika koalisi sayap kiri baru dan sayap kanan membuat keuntungan besar.
Situasi tersebut telah mempertanyakan rencana Macron untuk reformasi dalam masa jabatan keduanya sebagai presiden Prancis, termasuk langkah kunci untuk menaikkan usia pensiun, dan berisiko merusak status internasionalnya.
Memecah keheningan tiga hari setelah pemilihan, Macron dalam pidatonya yang disiarkan televisi, mengesampingkan pemerintah persatuan nasional namun tampak optimistis pada peluang untuk kemajuan, bahkan jika dia tidak menawarkan solusi konkret.
Melansir AFP, Macron mengatakan kekuatan politik Prancis harus secara kolektif belajar mengatur dan membuat undang-undang secara berbeda dengan membangun kompromi, penambahan, dan amandemen tetapi melakukannya dalam transparansi penuh, demi persatuan nasional.
Namun, dia mengesampingkan segala upaya untuk menciptakan pemerintah persatuan nasional, dengan mengatakan langkah seperti itu tidak dibenarkan pada tahap ini.
Macron mengakui bahwa pemilihan parlemen telah menyoroti masalah sosial di Prancis, namun dia meminta partai-partai oposisi untuk meninggalkan pertempuran dan bergerak “di luar politik”.[]












