Jakarta | Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan bahwa inflasi AS dapat bertahan untuk sementara waktu, setelah data pada Jumat (10/06/2022) menunjukkan tekanan harga yang meningkat secara tak terduga dalam beberapa pekan terakhir.
“Ini akan turun secara bertahap, tapi kita akan hidup dengan itu untuk sementara waktu,” kata Biden seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan Biden mencuat di tengah meningkatnya tekanan jelang pemilihan paruh waktu 8 November, di mana kendali sesama Demokrat Biden di Kongres dipertaruhkan.
Awalnya, pemerintah AS dan juga sejumlah ekonom profesional memprediksi tekanan inflasi akan mereda sementara, seiring berlanjutnya pemulihan dari pandemi Covid-19. Namun tekanan harga hanya meluas ke barang dan jasa tambahan akibat perang Rusia-Ukraina mengambil pasokan minyak dan makanan dari pasar global yang sudah membentang.
Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan, inflasi konsumen AS mencapai 8,6% dalam 12 bulan hingga Mei, yang merupakan level tertinggi dalam 40 tahun, dengan harga bensin menandai rekor tertinggi dan biaya makanan melonjak.
Pemerintahan Biden terus menghadapi masalah lonjakan biaya, meski telah mencoba sejumlah langkah untuk menurunkan harga. Namun Gedung Putih menyebut bahwa sebagian besar tanggung jawab untuk mengendalikan inflasi jatuh ke bank sentral AS, The Federal Reserve.[]












