Jakarta | Provinsi Henan, Tiongkok, telah memerintahkan hampir 100 juta warganya untuk melakukan tes Covid setiap dua hari, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, ketika negara itu bergulat dengan lonjakan yang dipicu oleh varian Omicron.
Tiongkok telah bertahan dengan kebijakan nol-Covid, memberlakukan penguncian atau lockdown keras dan pembatasan pergerakan di sejumlah kota, bahkan ketika banyak negara lain telah memilih hidup berdampingan dengan virus corona.
Pembatasan di Shanghai Beijing telah menimbulkan korban ekonomi yang besar. Untuk menghindari penguncian di seluruh kota yang serupa, pemerintah daerah mengadopsi pengujian frekuensi tinggi untuk mendeteksi kasus lebih cepat dan berpotensi mengisolasi kelompok tanpa memerintahkan seluruh populasi tinggal di rumah.
Pengujian akan dimulai di ibu kota provinsi Henan, Zhengzhou, sebelum akhir Mei, untuk membantu mengidentifikasi potensi risiko dengan cepat. Mengutip AFP, warga yang tidak mematuhi akan mengalami masalah memindai kode yang diperlukan untuk memasuki tempat umum atau naik transportasi.
Ibu kota provinsi lainnya, seperti Shijiazhuang di Hebei, juga telah meluncurkan langkah serupa, dengan memulai tes Covid mingguan untuk 11 juta warganya pada Senin.
Menanggapi kebijakan ini, analis Nomura memperingatkan bahwa pengujian massal akan mendatangkan masalah biaya tinggi untuk ekonomi yang sudah goyah. Jika mandat serupa diperluas ke seluruh daratan Tiongkok, bisa menelan biaya antara 0,9% dan 2,3% dari produk domestik bruto Tiongkok.[]












