Jakarta | Produsen mobil listrik Tesla Inc. membuka kesempatan mengakuisisi perusahaan tambang sebagai salah satu upaya memenuhi pasokan logam bagi produksi electric vehicle (EV). Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Tesla Elon Musk yakin strategi ini mampu mempercepat adopsi teknologi energi hijau secara global.
Musk mengungkapkan hal itu di tengah meningkatnya kekhawatiran kurangnya pasokan lithium, tembaga, nikel dan logam lainnya untuk memenuhi permintaan industri EV hingga akhir dekade ini.
“Bukannya kami ingin membeli perusahaan pertambangan, tetapi jika itu satu-satunya cara untuk mempercepat transisi, maka kami akan melakukannya,” kata Musk seperti dikutip dari Reuters.
Tesla saat ini memiliki kontrak logam EV dengan pemasok di seluruh dunia, untuk memproduksi 20 juta kendaraan setiap tahun pada 2030. Dengan target itu, Tesla akan membutuhkan lebih banyak pasokan logam. Untuk diketahui, pada tahun lalu, produksi Tesla tidak sampai menyentuh 1 juta unit.
Tesla menjalin kesepakatan pasokan lithium antara lain dengan Ganfeng Lithium, Livent Corp LTHM dan Albemarle. Sedangkan, kesepakatan pasokan lithium dengan Piedmont Lithium Inc ditunda tahun lalu. Selain itu, Tesla juga memiliki kesepakatan pasokan nikel dengan ValeSA dan Talon Metals.
Sejumlah pihak di industri pertambangan menyebut bahwa nilai akuisisi perusahaan tambang logam akan jauh lebih kecil dibanding biaya yang dikeluarkan Elon Musk untuk membeli Twitter senilai USD 43 miliar.[]












