Pendaftaran Paten di Thailand Akan Miliki Sistem Jalur Cepat

- Editor

Senin, 25 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi rak obat dan makanan. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/Pexels)

Ilustrasi rak obat dan makanan. (Foto: Pelopor.id/Pixabay/Pexels)

Jakarta | The Intellectual Property Department atau Departemen Kekayaan Intelektual Thailand diperintahkan membuat sistem jalur cepat untuk pendaftaran paten guna memfasilitasi penemu Thailand. Hal itu dimulai dengan proyek percontohan pada penemuan yang berkaitan dengan perawatan kesehatan, termasuk obat-obatan, perawatan dan makanan.

Direktur jenderal departemen Vuttikrai Leewiraphan mengatakan, sistem baru tersebut akan meningkatkan daya saing dalam inovasi dan kekayaan intelektual serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan pendapatan bagi orang Thailand dan pengusaha. Mengutip Bangkok Post, sistem ini dijadwalkan untuk diperkenalkan bulan depan.

Saat ini, aplikasi paten dan pendaftaran membutuhkan waktu sekitar 55 bulan dari tanggal pengajuan sampai paten diberikan. Di bawah sistem jalur cepat, periode pertimbangan akan dipotong setengahnya, menjadi 24-36 bulan.

Sejak awal pandemi hingga akhir pekan lalu, sudah ada 225 permohonan paten terkait pencegahan dan pengobatan virus corona di Thailand, yang terdiri dari 61 permohonan paten penemuan dan 164 permohonan paten kecil. Ada tiga jenis paten yang tersedia di negara tersebut, yaitu paten untuk penemuan, paten kecil dan paten desain atau juga dikenal sebagai desain industri.

Paten penemuan memiliki persyaratan paling ketat untuk memenuhi syarat perlindungan, diikuti oleh paten kecil, kemudian paten desain. Jangka waktu perlindungan paten invensi adalah 20 tahun, sedangkan masa perlindungan paten desain dan paten kecil adalah 10 tahun.

Dalam perkembangan terkait, pada 21 April lalu Wakil Menteri Perdagangan Sinit Lertkrai memimpin upacara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang kekayaan intelektual antara Departemen Kekayaan Intelektual dan Universitas Chulalongkorn untuk menghasilkan penjualan komersial untuk penelitian, guna membantu startup Thailand membangun bisnis melalui kekayaan intelektual.[]

Facebook Comments Box
Baca Juga :   Tak Ada Stimulus, Pendapatan Pariwisata Thailand Diprediksi Meleset

Berita Terkait

Said Didu Ungkap Bahaya Praktik Ekonomi Rakus ‘Serakahnomics’
BRAVE 2025 Siap Guncang Bintan dengan Rave Party Bertema Bioluminescence
WhatsApp, Google Maps dan X Bisa Digunakan Tanpa Internet
PGN Salurkan Gas Alam ke Cluster Mandar Bintaro
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tanah yang Dikuasai Perusahaan Skala Besar
BNN Identifikasi dan Musnahkan 2 Ladang Ganja
Kebut Jargas Bintaro, PGN Aliri Gas Kebayoran Villas dan Terrace
Weak Hero Class 2 : Si Penyendiri Mulai Punya Teman

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 17:09 WIB

Unit Skatepunk, Man Sinner Getarkan Kopi Wangsa Bogor di Buitenstage

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:10 WIB

Tanah Air Project Hadirkan Pesan Toleransi di Festival Gospel Gifest 2026

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:25 WIB

Man Sinner Tutup Swag Event Episode 130 dengan Energi Penuh

Kamis, 15 Januari 2026 - 15:46 WIB

Ifan Seventeen Sentuh Hati Pendengar Lewat Single Jangan Paksa Rindu (Beda)

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:26 WIB

Musafat Tutup Boleh Gig 2026 dengan Single Tersenyumlah

Kamis, 8 Januari 2026 - 22:49 WIB

Man Sinner Gunakan Visual Banjir dan Eksploitasi Hutan di Video Klip Single Bumi Menangis (Unplugged)

Kamis, 8 Januari 2026 - 21:47 WIB

Yure Andini Tawarkan Warna Musik Keroncong Modern Lewat Single Ya Kamu

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:46 WIB

Konflik Royalti Musik Rp 14 Miliar, LMKN Dilaporkan ke KPK

Berita Terbaru

Dokumentasi Boleh Gig edisi 7 Januari 2026. (Foto: Istimewa)

Musik

Musafat Tutup Boleh Gig 2026 dengan Single Tersenyumlah

Minggu, 11 Jan 2026 - 21:26 WIB