Pelopor.id | Grup DBS asal Singapura sepanjang tahun lalu berhasil mencetak laba sebesar SGD 6,8 miliar.
Angka itu tumbuh 44 persen dibanding tahun sebelumnya, yang salah satunya didorong oleh kenaikan kredit pinjaman hingga 9 persen dan sekaligus tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Capaian ini juga didukung oleh mulai pulihnya ekonomi dari dampak pandemi.
Melansir Reuters, lonjakan penyaluran kredit DBS salah satunya didorong oleh kenaikan pinjaman di sektor wealth management dan biaya layanan transaksi perbankan, yang akhirnya mengimbangi dampak rendahnya suku bunga.
Meski kinerja tahunannya positif, laba bersih DBS untuk kuartal terakhir tahun lalu masih lebih rendah 18 persen dari kuartal sebelumnya, menjadi SGD 1,39 miliar.
Hal itu salah satunya dipicu oleh menurunnya pendapatan non-bunga hingga 41 persen.
Untuk tahun ini, DBS berharap bisa menjadi penerima manfaat besar dari kenaikan suku bunga, ketika ekonomi Singapura diperkirakan tumbuh 3-5 persen. Angka ini juga akan menjadi laju ekonomi tahunan tercepat dalam kurun waktu lebih dari satu dekade.
CEO DBS Piyush Gupta mengatakan, untuk ke depannya, DBS mengharapkan pinjaman bisa naik satu digit atau lebih baik di tahun ini.
Sebelumnya, pada bulan lalu, perbankan terbesar di Asia Tenggara ini juga mencapai kesepakatan untuk membayar SGD 956 juta untuk membeli bisnis konsumen Citigroup di Taiwan. []
Baca juga: Akuisisi Bisnis Citi, DBS Jadi Bank Asing Terbesar di Taiwan












