Pelopor.id – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) dan Bank DKI melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama pembiayaan dalam rangka pembiayaan subsidi bunga/subsidi marjin KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan penandatanganan perjanjian kerjasama ini, selanjutnya Bank DKI sudah bisa menyalurkan KUR kepada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di DKI Jakarta.
Deputi Bidang Usaha Mikro KemenkopUKM, Eddy Satriya mengapresiasi keseriusan Bank DKI Jakarta dalam upaya mendorong pengembangan usaha UMKM di wilayah DKI Jakarta melalui penyaluran KUR. Adapun plafon KUR yang akan disalurkan Bank DKI mencapai Rp1 triliun tahun 2022 ini.
“Saat Covid-19 tentu mereka butuh tambahan dana yang murah. Jadi kami apresiasi kerja kerasnya menajemen Bank DKI yang sudah mengkoordinasikan dan memperbaiki infrastruktur IT dan sudah mampu memenuhi regulasi sehingga compliance terhadap aturan tata laksana penyaluran KUR,” tutur Eddy pada Senin, (7/2/2022).
Ia juga meminta penyaluran KUR dilakukan secara profesional dan mengedepankan aspek kehati-hatian. Hal ini penting dilakukan, lantaran subsidi KUR yang dibayarkan pemerintah adalah dana dari APBN yang harus dipertanggungjawabkan penggunaannya.
“Kami berharap Bank DKI dapat memaksimalkan distribusi KUR ini kepada mereka yang benar – benar membutuhkan. Jangan karena sanak saudara atau teman kemudian kita prioritaskan, kita harus utamakan profesionalisme,” ungkapnya.
Eddy menjelaskan, pihaknya menargetkan penyaluran kredit perbankan kepada UMKM dapat mencapai 30 persen di tahun 2024. Sedangkan Tahun ini pagu KUR dinaikkan menjadi Rp373,17 triliun dari Rp285 triliun di tahun lalu. Selain itu, Pemerintah juga memberikan tambahan subsidi bunga KUR sebesar 3 persen dari Januari sampai dengan Juni 2022, sehingga suku bunga KUR yang sebelumnya sebelumnya 6 persen menjadi 3 persen.
“KUR atau kredit UMKM harus digenjot karena nanti kita harus mencapai 30 persen penyaluran kredit perbankan ke UMKM di tahun 2024. Ini memang lebih kecil dibandingkan negara – negara lain yang telah maksimalkan SME (small medium enterprise) dalam pembiayaannya,” tandas Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kredit UMK dan Usaha Syariah, Babay Parid Wazdi yang mewakili Bank DKI mengungkapkan bahwa pihaknya berkomitmen penuh menyalurkan KUR sesuai dengan aturan dan pedoman yang ada. Dengan bekal pengalaman penyaluran KUR di tahun 2013-2014 lalu, Bank DKI optimis penyaluran KUR tahun ini akan jauh lebih baik.
Babay menegaskan, Bank DKI telah melakukan asessment dan memetakan dengan cermat para calon penerima KUR. Menurutnya, UMKM yang ada di PT Pasar Jaya atau sekitarnya sangat potensial diberikan dukungan akses KUR ini.
“Di Pasar Jaya itu ada sekitar 108 ribu pedagang. Kita sudah lakukan pemetaan mana yang bayar iuran lancar, mana yang lancar bayar listrik dan air. Mereka itu yang akan kita target. Ada juga nasabah di lingkungan Pasar Jaya yang sudah kami petakan potensinya,” kata Babay.
Selanjutnya, Bank DKI juga menyasar para UMKM yang menjadi vendor kebutuhan barang dan jasa bagi sejumlah rumah sakit atau puskesmas di DKI Jakarta. Menurutnya di DKI Jakarta terdapat 38 RSUD dan 400 Puskesmas yang telah menjalin kemitraan dengan UMKM.
“Jadi dengan peta yang sudah jelas ini, insyaallah kredit kita aman tidak seperti jaman dulu. Kami udah lakukan sosialisasi dan pelatihan dan ada asessment berkelanjutan juga,” pungkas Babay. []












